Dokter?? Biasa aja tuh..

Kemarin saya bertemu dengan seorang teman SMP saya yang mengajak suaminya berobat di tempat saya numpang praktek. Dia sudah tidak mengenali saya, sementara saya masih mengenali dia sebagai orang yang pernah saya kenal (hehehe sama-sama nggak kenal berarti ya, tapi mendingan aku, ya kan?).

Ketika kami masih mengingat-ngingat satu sama lain, dia melonjak dan berkata,”Kamu yang juara umum itu kan?”

Heran, kenapa kebanyakan orang mengingat saya sebagai juara umum daripada mengenal nama saya. Apa nama saya dulu waktu smp diganti dengan julukan ‘juara umum’???

It’s OK. Setidaknya saya masih terkenal dikenal. Akhirnya setelah saya menyebut nama saya, barulah ia melonjak lagi. “Ar!!!”

Sementara saya sendiri, lupa 100% dengan namanya. Atu mungkin malah tidak tahu. Ya… wajarlah, kami bukan teman dekat. Cuma satu smp yang terdiri dari 10 kelas, dan kami tidak pernah sekelas, tidak pernah satu organisasi, apalagi jajan bareng. Setidaknya saya merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Sementara dia merasa bosan mendengar nama saya sebagai juara umum dari mikrofon sekolah.

Singkat cerita, konsultasi malam itu sangatlah tidak singkat. Suaminya yang notabene adalah pasien di malam itu cuma bisa meringkuk di luar karena sang istri lagi reuni sama dokternya. Macam-macam kami bicara, mulai dari yang lahir, yang baru akan membuat orang dilahirkan, yang baru akan melahirkan, mantan-mantan pacar orang, hubungan orang yang kandas dan berlanjut, sampai yang mati. Sementara anak laki-lakinya yang ia bawa sedari tadi gatal mengobok-ngobok isi tempat praktek.

Dan cerita di malam itu, berakhir dengan hal yang membuat saya geli atau sebal. Katanya,” Teman-teman kita udah pada kawin, aku dah punya anak satu, umurnya udah 3 tahun, lah kamu belum kawin. Kasian banget kamu.”

Hellooooo, saya baru 24 tahun…….

Duh, orangtua saya bangga banget saya jadi dokter, tapi saya diremehkan orang yang ga jelas apa dia tamat SMA dan nikah pula sama buruh kayu; karena saya belum punya suami dan anak dalam umur yang menurut dia sudah tua matang.

Tapi saya ingat2 lagi, mungkin dia memang termasuk golongan orang yang nggak ngerti, kalo jadi dokter itu pengorbanannya luar biasa: waktu, tenaga, uang, dsb. Bukan minta pujian, tapi setidaknya tidak diremehkan…hehhee

Saya ingat, dulu waktu ada reuni SMP, salah seorang teman saya bertanya, saya kuliah di mana. Waktu itu saya jawab FK. Dan dia bilang,”Kenapa nggak FKIP saja?”

Whattttfffff????!!??!?!

Ternyata masih aja ada yang nggak tau FK itu singkatan dari fakultas kedokteran. Mungkin dia kira itu nama sejenis makanan. Dan setelah dibilangin juga kepanjangannya, dia tetap nggak tau kalo FK itu mencetak orang jadi dokter.  Lalu selanjutnya saya pikir diomongin juga nih orang nggak bakalan ngerti. Mungkin cuma sampe segitu aja pikirannya. Sama halnya bila ada orang yang mau memamerkan mobil mahal kepada saya, dan berdebat soal mobil-mobil mahal; dijamin saya nggak ngerti, jadi percuma saja.

Jadi dokter itu biasa-biasa aja sekarang ini.

Bagi orang yang pendidikannya rendah, ataopun saat kamu di desa, yang paling tinggi adalah Pak Kepala Desa. Jadi walopun kamu sekolah sampe berdarah-darah, kalau kamu nggak jadi kepala desa, ga hebat. Wong mereka merasa bisa bayar kita kok! Berarti mereka lebih kaya dari kita kan? Dokter,,, kamu itu cuma pelayan. Sadar ya…

Beberapa waktu ini, yang saya temui adalah dokter nggak hebat kalo nggak PNS. PNS mau dari jurusan apapun, pasti hebat. Soalnya beda banget belalakan matannya waktu ada yang tanya kepada saya, tamat jurusan apa? dengan udah PNS? Mereka sibuk ngerumpiin dokter-dokter yang sampe sekarang belum PNS, dan bekerja swasta: kasian banget kata mereka.

Wowwww,,, mereka nggak tau ya, kalo dokter swasta itu duitnya lebih banyak dari PNS? Kalau dokter perusahaan, asuransinya lebih keren daripada asuransi kesehatan PNS? Kalo kerjanya dan dedikasinya lebih tinggi dan disiplin? Mereka nggak ngerti.

Atau mereka pikir, kalo bisa jadi PNS itu hebat karena ‘uang’ yang dikeluarkan untuk jadi PNS sangat banyak? Heloooo,,, kami mending memilih sekolah spesialis aja dengan duit beratus juta itu, karena lebih worth!

Dokter,,, kamu itu cuma profesi yang sama dengan profesi lainnya, sadar ya….

Dan di dusun ini, beda dengan yang di tipi-tipi, yang dimana anak-anak kecil bilang pada mau jadi dokter. Di sini, mereka lebih bangga bila jadi polisi atau penyanyi dangdut?.

So,, dokter,,,, gayamu nggak laku di sini… hehehhe

 

 

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

3 responses to “Dokter?? Biasa aja tuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: