Kembali Lagi Ya…

Prolog:

Eh, pernah denger nggak sih ada omongan kayak gini:

“Aku nggak serasi ama dokter yang itu, tapi sama dokter yang ini cocok”

“Aku udah ke lima dokter loh,, tapi sakitnya nggak ilang walau obatnya diminum”

**********************************************

Ehm, pernah ngalamin nggak masalah kayak gini:

Waduh, lampu mundur mobil mati. Bahaya, kalau nggak dibenerin bisa2 saya yang koit. Berangkatlah saya ke bengkel A. Si montir tanya2: apa masalahnya, bla2… Terus dia periksa-periksa. Terus dia bilang,”Wah bu, komponen yang ini mesti diganti, karena bla2…” Terus saya setuju ganti komponen yang rusak. Terus lampu mundur saya bagus lagi. Saya bayar biaya komponen dan jasa memperbaikinya.

Terus suatu waktu lampu itu mati lagi. Saya balik lagi ke bengkel tempat saya memperbaiki lampu mundur. Diperiksa-periksa lebih jauh. Eh ternyata komponen lain yang bermasalah. Diperbaiki lagi-bagus kembali-saya bayar lagi.

Suatu waktu ternyata mati lagi tuh lampu. Saya balik ke bengkel yang sama. Diperiksa lagi sampe bongkar2. Eh ternyata ada komponen yang rusak di dalammmmm sekali. Bengkel itu nggak punya komponennya, adanya di bengkel yang lebih besar. Saya disarankan pergi ke bengkel B. Saya datang ke sana, memang B lebih canggih dan lengkap bengkelnya. Saya kembali ditanya2 apa masalah mobilnya, dibongkar-bongkar, dapet masalahnya, terus diperbaiki, mobil saya bagus kembali, saya bayar.

Suatu waktu, jika ada kerusakan di tempat lain, saya kembali ke bengkel A, walaupun saya tau bengkel B lebih canggih dan lengkap. Bengkel B mendapat rujukan dari A, artinya layanan yang diberikan bengkel B hanya diberikan bila bengkel A tidak mampu lagi melayaninya.

*******************************

Kejadian setiap kali saya ke bengkel, mengingatkan saya akan apa yang dialami dokter dalam prakteknya sehari-hari. Umpamanya, bengkel A adalah tempat praktek dokter umum, bengkel B adalah praktek dokter spesialis, montir adalah dokter, si mobil adalah pasien. Tapi bedanya, nggak kayak saya yang bawa mobil saya kembali ke bengkel A, pasien kalo ngerasa nggak baikan langsung tancap aja ke dokter A1, A2, atau bahkan ke dokter B. Emangnya kenapa sih pasien harus kembali lagi ke praktek kita, seperti halnya saya balik ke bengkel A?

Balik lagi ke prolog tadi, beberapa cerita yang yang sering saya dapati dalam praktek mungkin bisa jadi bahan pembanding. Cerita pertama, tentang pasien yang ngerasa nggak cocok sama dokternya. Sah-sah aja sih, sebagai penyedia jasa, kita harus berhadapan dengan persaingan dengan penyedia jasa serupa. Sah-sah saja, bila pasien bisa memilih mana dokter yang mereka mau, sebagaimana mereka memilih penyedia jasa jenis lainnya. Mungkin dari segi pelayanan, keramahan, harga, lokasi, dan banyak lagi hal-hal yang menjadi pertimbangan bagi seorang pasien untuk bisa menetapkan pilihan. Tapi kalo hal yang bikin pasien pindah karena ga cocok obat atau ngerasa belum sembuh,,, nah ini ni yang kalo bisa jangan…

Dokter itu bukan penyembuh, cuma perantara saja. Saya tidak pernah tau apakah obat yang saya pilihkan untuk pasien ini -walaupun sudah tepat indikasi- dapat membuat pasien merasa sembuh. Rahasia Tuhan semua mah, tau2 ada yang nggak bisa minum obatnya karena pahit, tau2 pas abis minum obat dia muntah jadi obatnya nggak masuk, tau2 ada yang alergi; who knows?

Dan dengan kenyataan seperti itu, kiranya perlu menerapkan layanan purna jual layaknya bengkel, dengan kata2,”Kalo obatnya sudah habis tapi tidak ada perubahan, mohon kembali lagi ke sini ya” atau “Kalo sakitnya makin menjadi walau sudah minum obat, silahkan kembali ke sini ya meskipun obatnya belum habis” atau”Kalo sudah minum obat timbul reaksi merah, gatal, obatnya di stop dan langsung ke sini ya…” dsb, kurang lebih seperti itulah.

Supaya saya bisa tau, ohh ternyata nggak respon sama obat ini, oh mungkin masalahnya tidak hanya di area ini, oh ternyata si pasien alergi obat ini, dan saya bikin catatan khusus, mengganti terapi, dan akhirnya catatan itu saya tulis di kartu kecil, untuk pasien tersebut pegang, seandainya yang bersangkutan kembali berobat ke saya atau mungkin memilih untuk pindah berobat ke dokter umum lainnya suatu waktu. Supaya saya bisa tau, ohh ternyata sepertinya harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut yang akhirnya saya berikan rujukan pemeriksaan untuk laboratorium dll dan saya harapkan hasilnya kembali lagi kepada saya. Supaya saya bisa tau,, ohh ternyata masalah pasien ini di luar kompetensi saya, supaya saya bisa merujuk ke bengkel B yang lebih besar alias dokter spesialis, dengan harapan surat rujukan saya mendapatkan balasan tentang apakah yang terjadi pada pasien saya ini (yang saya nggak tau itu seharusnya ada apa nggak, karena selama ini saya selalu bertanya-tanya sendiri tentang kabar pasien yang saya rujuk, bahkan sampai datang ke rumah sakit buat cari tau,, waduhh).  Supaya saya punya catatan lengkap riwayat medis pasien-pasien yang datang pada saya. Pada akhirnya, supaya saya kenal betul seperti apa dan bagaimana sih pasien saya ini.

Hasilnya setelah saya menerapkan ini: dari seluruh pasien yang pernah datang, satu orang kembali lagi karena alergi obat, dan tetap meminta obat penggantinya dengan saya, satu orang kembali lagi setelah pemeriksaan lab padahal kalo dia mau dia bisa minta periksa pada dokter di rs tempat dia cek lab, dan saya sudah menyarankan begitu supaya nggak bolak-balik; dan sisa orang yang kembali lagi adalah orang2 yang mukanya saya kenal, membawa diri mereka karena sakit di hari yang lain atau membawa keluarga mereka untuk berobat kembali kepada saya.

Cerita yang kedua, tentang pasien yang sudah berobat ke lima dokter tapi tidak merasa ada perubahan walaupun sudah minum obat. Ini sering sekali saya dapati, dan baru-baru ini saya mendengar lagi dari pasien dengan kasus LBP. Setelah saya cari tau gimana ceritanya, makan obat apa,,, barulah saya tau,, memang dia sudah ke berbegai dokter namun dengan alur yang keliru. Katakanlah ada dokter umum A1, A2, dan A3. Ternyata si pasien ini datang ke dokter A1, minum obat sampai habis, sakit ga hilang tuntas, pergi lah ke dokter A2. Dokter A2 juga kasih obat, baru diminum sekali, nggak hilang tuntas sakitnya, pergi lagi ke dokter A3. Dokter A3 memberikan obat suntik, pasien ngerasa nggak hilang tuntas, pergi ke UGD rumah sakit. Tidak ada indikasi rawat, dikasih obat suppos, lalu pulang ke rumah. Lanjut dengar-dengar dari orang lain bahwa ada dokter spesialis B1 yang terkenal, pergilah si pasien ke dokter B1, disuntik, pulang ke rumah, ngerasa nggak hilang tuntas, pergi lagi ke dokter spesialis B2. Di dokter B2, baru mo ngeresepin obat, si pasien geleng2 karena katanya sudah makan segala macam obat, akhirnya si dokter B2 buat surat permintaan untuk MRI. Ternyata pemeriksaan MRI mahal bukan kepalang. Cari-cari alternatif lain, ke dokter spesialis jenis lain, dr. B3. Nah, si dokter B3 ini pake layanan purna jual atau lebih tepatnya karena sistem terapinya bertahap, jadi dia bilang, “Tolong balik lagi Pak ya untuk terapi kedua”. Saat si pasien balik lagi ke dokter B3, ia mengeluhkan bahwa sakitnya timbul lagi, dan di saat itu juga dokter B3 merasa bahwa kompetensinya tidak bisa jadi perantara penyembuhan pasien ini, saat itu juga ia membuat permintaan ronsen untuk pasien tersebut, dan lagi-lagi berkata, “Kalau sudah di ronsen, hasilnya tolong bawa ke saya ya.” Gara-gara kalimat itu, akhirnya setelah ronsen, si pasien kekeuh pingin ke dokter B3 lagi untuk menunjukkan hasilnya dan menanyakan langkah selanjutnya. Panjang banget kan? Saya aja capek nulisnya…hehe..

Oke, balik lagi ke salah alur seperti yang saya bilang. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena saya cek obat2 yang selama ini tidak tuntas dimakan dari berbagai dokter ternyata SAMA SAJA,, cuma beda merek doang. Kedatangan pertama kali pasien ke tempat dokter praktek umum untuk kasus ini berujung ke analgetik. Seandainya saja, setelah pengobatan pertama kali, si pasien balik lagi ke dr A1, tentu dokter A1 berfikir untuk langkah lebih lanjut, apakah pemeriksaan penunjangkah, atau rujukkah. Tentu setelah itu tidak menghabiskan banyak waktu, banyak uang, banyak tenaga untuk mencoba-coba, dengan gonta-ganti obat yang ternyata isinya sama saja. Si pasien berpindah-pindah dokter tanpa menunjukkan resep atau membawa obat yang diberikan sebelumnya, tanpa mampu menjelaskan obat apa yang sudah ia makan. Alhasil, bisa-bisa dia double makan obat.

Saya akui alur ini memang carut marut. Pasien batuk pilek bisa langsung datang ke dokter penyakit dalam, pusing kepala bisa langsung datang ke dokter syaraf, yang semestinya bisa tuntas di tangan dokter umum saja.  Pasien sudah bisa jadi dokter triase bagi dirinya sendiri. Pasien membayar yang tidak perlu. Sebenarnya ada puskesmas sebagai dokter layanan primer, tapi yang terjadi kok puskesmas terkesan menjadi sarana berobat untuk yang tidak mampu saja. Hingga nanti data kesehatan yang dipunyai puskesmas cuma data pasien yang tidak mampu saja, tidak menggambarkan warga di wilayah tersebut secara keseluruhan, padahal mungkin populasi yang kaya ada 3/4 dari jumlah warga disitu, yang misalnya ternyata sebagian besarnya mengalami penyakit metabolik atau darah tinggi tanpa tercatat.  Masalahnya lagi adalah puskesmas tidak semuanya 24 jam, alhasil pasien yang batuk gatal tenggorokan tengah malam langsung tancap ke UGD RS, membangunkan para dokter UGD yang seharusnya lebih bersiap untuk hal-hal yang gawat darurat. Atau, pergi ke rumah saya yang sebenarnya bukan lagi di jam praktek…wkwkwkwk.

Ngomong-ngomong, saya kok rindu dengan istilah “dokter keluarga” sebagai pelayanan yang komprehensif pada suatu lingkungan yang ditentukan, sebagai layanan primer pertama kali ke mana pasien di bawah wilayah kerjanya harus berobat, sebagai yang berkompetensi merujuk ke pelayanan sekunder untuk penyakit yang di luar kompetensinya. Tentunya dokter akan kenal betul siapa pasiennya, totalitas penanganannya, mungkin bisa menghemat uang, pemerintah punya data akurat tentang kesehatan di wilayah tertentu. Saya sudah mengalami sendiri, betapa enaknya punya dokter keluarga (walau bukan dokter keluarga murni, yang saya punya dokter praktek ASKES), dimana kalo keluarga saya sakit, tinggal pergi ke dokter itu saja, nggak usah kemana-mana lagi, tidak bayar karena pake ASKES, dokternya sangat mengenal keluarga saya hingga dia hapal penyakit apa-apa saja yang bikin keluarga saya berobat ke sana. Nanti kalau dirujuk pake surat pengantar dari sana. Sampai di rumah sakit saya nggak bayar lagi-lagi karena ditanggung. Nanti kalo ada obat yang tidak ditanggung ASKES, baru kami bayar. Di Palembang sih sebenarnya ada, pake jamsoskes atau jamkesmas juga bisa berobat gratis, pangkalnya dari puskesmas. Tapi alangkah senangnya kalo semua orang itu, baik kaya atau miskin bila di wilayah yang sama, punya dokter keluarga yang sama. Masalah pembiayaan siapa yang mesti bayar, siapa yang gratis, pemerintah lah yang ngaturnya. Soalnya saya juga bingung tumpang tindihnya nanti gimana, antara dokter keluarga, dokter praktek swasta, dokter puskesmas…saya lebih tertarik sama mahasiswa dan pasien saya saja daripada ngurusin sistemnya. Ehm, sekarang kayaknya materi kuliah dokter keluarga ini sedang digalakkan, ada pula perhimpunannya (PDKI). Semoga saja segera terwujud sistem yang baik.

 

Okeh,,, sekian curcol saya hari ini… Jangan lupa, kembali lagi ya…

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: