Sakit Mental

Suatu hari seorang wanita datang ingin memohon bantuan uang, saya tidak usah jelaskan siapa dan darimana, intinya uang digunakan untuk berobat. Nampak abses kecil di bagian leher belakangnya, orang awam bilang bisul. Udah tinggal insisi dan drainase plus antibiotik kalau menurut saya. Tapi berhubung saya niatnya sekolah, jadi seluruh peralatan dan obat2an saya tinggalkan di kampung halaman.

Sudah berobat ke klinik 24jam, harus diblek (dikeluarkan nanahnya), si ibu bilang. Saya heran, kok ibu yang notabenenya tidak mampu ini berobat malah ke klinik yang pasti lebih mahal biayanya. Kok nggak ke puskesmas? Kok sampai mesti meminjam uang segala? Kok nggak berobat gratis? Padahal kasus begini di puskesmas saja sudah cukup, lagian kan katanya di Jakarta juga ada berobat gratis. Mendingan uangnya buat beli makanan bergizi.

Saat saya tanya ke ibu itu, ternyata memang dia nggak mengurusin persyaratan yang diperlukan untuk bisa berobat gratis. Males. Wong udah dikasih fasilitas sama pemerintah kok malas ya ngurus surat yang cuma sekali itu. Malah lebih nyaman pinjem uang ama orang. Aneh… Nggak heran sih, di kampung halaman saya yang berobat gratis tinggal nunjukkin KK dan KTP aja masih ada yang ga bisa berobat, karena dia malas ngurus identitas dirinya! Malah ada yang pinjem KK dan KTP punya orang.

Hfhhhh,,, gimana ini, mentalnya ini yang sakit.

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: