Ikut Sakit Mental

Menyambung posting sebelumnya tentang sakit mental, dalam berapa minggu ini saya hampir ikut sakit mental. Saya sekarang dalam posisi menjadi pasien. Saya mau cerita pengalaman saya dalam berapa minggu terakhir, setelah saya menjadi teman sejawat yang tak dikenali, merantau di Jakarta, kota sejuta masalah kalau boleh saya ibaratkan.

Kalau biasanya di palembang saya bisa janji kontrol pakai sms saja, konsultasi lewat bbm saja, ga pakai antri lama, nggak pakai bayar jasa layanan dan alat, sekarang saya coba jadi pasien biasa tanpa gelar saya di kartu berobat. Berhubung saya pakai jaminan PNS, saya pun ikut alur, mulai dari puskesmas dulu. Datang jam setengah 9, saya baru dapat rujukan jam 11 lewat. Kali kedua saya datang jam setengah 8 dan menjadi pasien kedua, saya baru dapat rujukan jam setengah 10. Petugas kesehatannya, ajaib. sudah stand by dr pukul 7, termasuk dokternya. Tapi masalahnya adalah saat kali kedua kedatangan saya, para petugas kesehatan mesti rapat dulu. So far, lamanya menunggu saya simpulkan memang karena banyaknya pasien yang mengantri.

Saat minta rujukan untuk kali pertama, sesampainya di rumah sakit rujukan, saya mengisi form jaminan untuk pertama kali berobat, biasanya hanya untuk pertama kali saja, selanjutnya bila berobat lagi bisa langsung antri di tempat pendaftaran. Antrian memakai nomor kayak di bank, so lumayan terbantulah, bukan seperti ngantri sembako. Sebelum ke poli, saya harus acc dulu ke tempat penjamin saya yang letaknya di dekat ruang pendaftaran. Setelah itu saya meluncur ke poli, langsung mendaftar dan lagi-lagi menunggu, dan baru mendapat giliran pukul 13. Tapi, kembali lagi saya bilang, bahwa lamanya menunggu memang karena banyaknya pasien. Setelah itu saya diberi form cek lab dan pemeriksaan canggih, labnya terletak di lantai 3. Eh ternyata saya harus acc dulu ke penjamin yang letaknya di lantai bawah dekat pendaftaran tadi. Hmm nggak praktis amat yak. Berhubung hari sudah siang, lab yang memakai penjamin sudah tutup, kalau mau bisa sih ke lab yang berbayar, tapi okehhh mari kita teruskan perjuangan ini. Untuk pemeriksaan pakai alat, katanya akan dijadwalkan dan akan ditelpon.

Selang 3 hari kerja, saya mendapat telpon bahwa pemeriksaan memakai alat akan dilakukan pukul 9. Saya saat itu melakukan acc dulu ke penjamin, berhubung kemarin saya sudah capek bolak -balik. Saya sampai di ruang pemeriksaan hampir pukul 10. Saya bertanya apakah saya harus segera masuk ruang pemeriksaan karena saya dijadwalkan diperiksa pukul 9. Tenyata saya harus ambil nomer antrian dulu. Okeh, saya lagi-lagi menunggu, untung nggak terlalu lama. Saya dapat urutan pemeriksaan no 6, lumayan senang sih, karena keliatan nggak bakalan lama menunggu. Ternyata, sampai saat ini, hampir pukul 12 siang, baru antrian no 2, karena dokternya baru datang. Alamak. Ternyata seperti inilah yang dialami pasien. Ternyata bukan saya yang pake asuransi loh, yang bayar juga ngantri. Bedanya adalah kalau pakai jaminan itu mesti acc dulu ke bagian jaminan setiap kali daftar berobat, ada tindakan, lab, periksa alat, dll. Rasanya sebel juga, pingin nggak usah pakai jaminan saja, tapi toh yang berbayar sama juga ngantrinya. Dimana letak masalahnya? Apa kita kurang tenaga medis di tengah ramainya orang yang sakit?

Saat saya berada dalam posisi dokter, saya usahaka  bisa on time, hanya saja saya akui saya juga manusia, butuh waktu sholat, makan, yang kadang2 menambah waktu pasien menunggu. Saya juga paham, bahwa dokter di poli rumah sakit juga mungkin saja sebelumnya habis jaga, atau masih visite, atau ada pasien gawat di bangsal, atau masih ada acara ilmiah bila kebetulan rs pendidikan. Saat koass pun saya merasakan terkadang kerja dokter sudah tidak manusiawi lagi, letih fisik dan mental akibat banyaknya pasien, terutama saat diberlakukan berobat gratis.Saat itu, rasanya mengurut dada bila banyak pasien tidak sabar menunggu sementara saya sudah pontang – panting seharian.

Tapi saat berada pada posisi pasien, saya pun merasakan ketidaknyamanan dan kegelisahan yang luar biasa dalam penantian panjang tak tentu ini. Saya merasa begitu kerepotan, begitu letih untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, apalagi bila saya sedang didera sakit yang luar biasa. Saya menjadi tidak sabar dan rasanya ambang toleransi saya sudah rendah. Waktu saya begitu banyak terbuang untuk menunggu yang tidak produktif (untung ada tab ini). Untung di tempat kuliah saya bisa izin, tapi tetap saja saya rugi. Apalagi saudara2 kita yang memakai askin atau jamkesmas. Selain antriannya yang jauhhhh lebih panjang, prosedur yang nampaknya lebih ribet dibandingkan dengan tingkat pengetahuannya, obat yang mungkin tidak tercover, waktu mereka terbuang padahal mungkin waktu mereka sangatlah berharga karena tidak bekerja di sektor formal. Waktu mereka sebanding dengan penghasilan. Belum lagi pandangan sebelah mata kepada mereka. Beginikah wajah pelayanan kesehatan kita? Bagaimana nasibnya bila nanti akan berganti semua sistem menjadi bpjs? Akankah bisa diperhatikan masalah ini? Akankah menjadi lebih baik?

Pantas saja orang yang seharusnya askin malah berobat ke klinik 24 jam yang mahal, mentalnya sudah sakit akibat penantian terlalu lama. Bagaimana nih pak Jokowi?hehehe

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: