Kenapa Harus Jadi Dokter?

Tergantung niat.

Kalau Anda bilang supaya bisa dapat uang banyak, Anda sebaiknya berpikir lagi, silahkan baca sumpah dan aturan di sini. Dosen saya pernah berkata, bahwa dokter itu tidak kaya, namun bisa hidup layak, apalagi dokter di bawah pemerintah. Yah, anak bisa sekolah walau bukan di sekolah yang mahal, bisa makan, ada mobil walau second, punya rumah walau nyicil, dsb. Lah, terus kenapa bisa ada dokter yang kaya banget??? Liat dulu dong.. apakah 1) asalnya memang anak orang kaya, 2) kekayaan warisan dibuat menjadi usaha klinik/ rumah sakit yang menguntungkan, 3) bekerja mati-matian pagi- siang-malam seperti kuli demi mengumpulkan uang, termasuk dokter pemerintah yang pulang kerja langsung praktek sendiri 4) bekerja sebagai dokter swasta dengan jam kerja dan upah yang lebih manusiawi atau 5) dokter pemerintah tapi punya bisnis sampingan yang menguntungkan.

Kalau Anda bilang ingin ilmu, maka selamat!!! Anda berada di tempat yang tepat, karena pendidikan dokter itu adalah terus belajar seumur hidup.

Kalau anda bilang ingin mengabdi ke masyarakat, maka selamat!!! Iklim di Indonesia sangat mendukung “pengabdian” Anda sedalam-dalamnya.

Kalau Anda bilang, supaya bisa jadi ibu rumah tangga seperti niat saya…. ergghhh…, atau supaya bisa jadi artis..ehmmm…,, atau supaya dapat pasangan dokter…glekkkk… no comment!

Buat gambaran yang mau jadi dokter, saya nggak mau kasih liat bunga2, tapi kenyataan saja, bahwa beberapa masalah sedang mendera dunia kesehatan Indonesia ini, di antaranya:

Masalah #1: Kekurangan dokter. Saya lihat setiap tahunnya fakultas kedokteran meluluskan ratusan dokter, namun tetap saja di sana-sini ada yang kekurangan dokter, baik dokter umum maupun spesialis. Harus dipetakan lagi berapa yang sebenarnya dibutuhkan dan di daerah mana yang membutuhkan. Jangan cuma sibuk meluluskan saja, tidak tahu lagi kemana rimbanya, yang mungkin salah satunya disebabkan oleh:

Masalah #2: Penyebaran dokter tidak merata. Sering dibicarakan nih di media cetak maupun online. Ehm,, berhubung sekolah ini cukup sangat menguras kantong orangtua (apalagi spesialis), bagaimana kalau daerah yang kekurangan dokter diberi kesempatan memilih putera-puteri daerah yang berkomitmen untuk kembali ke daerahnya setelah pendidikan. Dibantu dong pakai beasiswa dan dibuat surat perjanjian yang mengikat. Saya rasa banyak sekali putera-puteri daerah yang otaknya mumpuni bukan sekedar anak pejabat daerah. Saya rasa manusiawi saja, kalo dokter sekarang enggan menetap di daerah terpencil, sekolahnya mahal-mahal pakai uang sendiri, susahnya sekolah dideritanya sendiri dan orangtuanya, terus masa’ harus meninggalkan orangtua (misalnya), demi penghidupan di daerah terpencil yang tidak dikenal dan tidak jelas kelayakannya (teman2 PTT di tempat tertentu merasakannya; masalah birokrasi, byarpet, dan lain sebagainya; apalagi kalau disuruh menetap). Kalaupun misalnya pemberian beasiswa daerah ini sudah dijalankan, namun si penerima beasiswa tidak kembali ke daerahnya; Tanya Kenapa?

Masalah #3 Kompetensi. Dulu, saya terkagum-kagum dengan cerita bahwa dokter Indonesia luar biasa, bisa mendiagnosis dengan alat minimal, prosedur murah, dan ternyata tepat. Menghindarkan pemeriksaan yang tidak perlu, yang akan membebankan biaya kepada pasien, yang sebagian besarnya berasal dari kalangan tidak mampu. Lebih berorientasi ke klinis pasien, bukan hasil pemeriksaan penunjang. Ibarat kalo chef, dokter Indonesia itu seperti jago masak di alam hanya dengan memakai kayu, daun dan garam, dibanding chef lainnya yang mesti masak memakai alat masak berharga jutaan, dengan hasil yang ternyata sama enaknya. Namun sekarang tidak lagi, ada area kompetensi yang harus dikuasai, terserah bagaimana di lapangan apakah bisa terealisasi, sudah seharusnya standar dokter kita harus sama dengan dokter negara lain.

 

Masalah #4 Kesejahteraan. Orang beramai-ramai berobat ke luar negeri. Saya pernah bertanya pada seorang pasien, kenapa sih memilih berobat ke luar negeri? Alasannya adalah pemeriksaannya lengkap, dokter bisa dihubungi 24 jam, melalui telepon rumah sakit yang akan disambungkan ke ponsel sang dokter bila dokter tidak ada di rumah sakit. Wow,, pertanyaan yang timbul di benak saya adalah: dengan kesediaan waktu selama 24 jam untuk menerima pertanyaan pasien maupun keluarganya sewaktu-waktu, berapakah dokter itu dibayar? Upss… dokter Indonesia nggak boleh ngomongin gaji, ntar dibilang money-oriented lah… Kalau bisa di Indonesia ini semua berobat nggak bayar, dokternya siap siaga 24 jam, pelayanan prima, harus senyum nggak boleh kusut, terus digaji di bawah UMR. Herannya, giliran berobat ke luar negeri walaupun mahal tapi ada kebanggan. Yah,nasib jadi dokter aparatur negara. Selain jadi pelayan juga, kerjanya kayak kuda.

Saya agak keberatan kalo ada yang komen, “ih nggak ikhlas jadi dokter“, karena itu urusan pribadi masing-masing dengan Tuhan. Dokter juga manusia, sama saja dengan yang lainnya, tetap butuh makan, tetap butuh biaya sekolah anak, tetap menghadapi krisis keuangan. Ikhlas bukan manusia yang menilai. Namun memang, untuk yang sudah menjadi kuli negara, dengan berat hati saya menyarankan harus legowo menerima kenyataan bahwa seperti inilah batasnya.

Tapi yang mesti jadi perhatian (terutama saya yang bergelut di pendidikan), apa sih tujuan lulusan kita sebenarnya? Menghasilkan dokter yang mampu bertahan di pedalaman dengan alat dan kesejahteraan yang minim sajakah, cukup orientasi kemanusiaan dan kemiskinankah, ataukah juga menyiapkan barisan ‘prajurit’ yang siap bersaing dengan dokter luar negeri yang menjadi tuan rumah di tanah kita ini. Apakah dokter Indonesia hanya layak mendapatkan pendidikan seadanya sesuai dengan kondisi kita yang serba kekurangan, ataukah perlu bagi dokter kita mendapatkan pendidikan berorientasi global, yang berarti penyediaan alat-alat standar sebagai bahan pengajaran menjadi perlu diadakan. Lagi-lagi, urusan pengadaan alat di bawah pemerintah ini sangatlah sulit, lamanya proses usulan terkalahkan oleh terus berkembangnya ilmu kedokteran yang terjadi demikian cepat. Melenceng dari prosedur dengan tujuan supaya lebih cepat, alamat masuk bui, sementara pendidikan terus berlangsung tanpa bisa menunggu. Lebih menggelitik: Apakah dokter di Indonesia cuma bisa menjadi buruh, dikalahkan oleh bangsa asing? Apakah dokter Indonesia hanya layak menjadi dokter orang miskin? Tanya kenapa..

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: