Celoteh Bajaj

Akhir-akhir ini sering bersliweran berita di televisi tentang kejadian-kejadian tidak mengenakkan di sarana publik, misalnya di dalam angkutan umum. Tindak kejahatan entah kenapa semakin merajalela, mulai dari penodongan, pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Baik angkutan murah sekelas omprengan hingga taksi pun tidak luput jadi tempat tindak kejahatan.

Mungkin dulu saya sudah pernah menaiki segala jenis angkutan umum (secara garis besar) di Jakarta, dan dulu memang tidak pernah ada rasa ketakutan dengan berbagai kejadian kejahatan seperti sekarang ini, walaupun saya pergi sendirian. Tapi sekarang, berhubung saya lagi hamil dan  misua ada motor,  sebagian besar perjalanan tidak dilakukan dengan memakai angkutan umum lagi. Namun, pada saat awal kuliah dimana saya masih sendirian ngekos, untuk jangkauan yang agak jauh saya memakai taksi, dan untuk jarak dekat, saya pernah memakai ojek dan naik bajaj. Tapi kalo dipikir-pikir dari segi keamanan mending naik bajaj deh, soalnya pasti aman dari penodongan (orang muatannya terbatas, dan bajaj nggak mungkin ambil penumpang lain), aman dari penjambretan (kalo kita nyangkring tas tangan di ojek kan bisa berabe kalo dijambret), aman dari konspirasi (naik taksi kalo nggak tau jalan suka diputer2, eh tau2 dia kerjasama dengan penodong pula), kalau tuh abang bajaj mau macem2, ketok aja kepalanya dari belakang (wkwkwk..ngajarin kriminal nih). OOT…dasar OOT..

Nah tobat OOT, berhubung ini blog dokter, saya kali ini mau cerita dari unsur kesehatannya ya. Jadi, ketika awal saya kuliah, saya sempat langganan ojek. Tapi ternyata, naik ojek di jakarta sungguh mengerikan: nyalipnya keterlaluan, seringkali tidak menyediakan helm, melanggar rambu dan lampu lalu lintas, tapi anehnya tidak ada yang ditindak oleh polisi. Mirisnya, tidak hanya ojek saja yang seperti ini, sebagian besar pengendara motor berperilaku sama. Jadi kalau ada mendengar kecelakaan motor vs mobil di Jakarta, saya kadang sangsi kenapa si roda empat yang disalahkan. Mungkin polisi yang bertugas lebih mementingkan kelancaran lalu lintas daripada keselamatan pengemudi yang memang sudah tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Nanti berakhir di UGD pula,, kasihan dokter yang lagi jaga..hehe.

Saat teman-teman kuliah saya tahu kalo saya naik ojek, mereka pada protes dan lebih menyarankan naik bajaj. “Naik bajaj deh, yang biru, yang BBG, jangan yang merah.” Berhubung saya di Palembang tidak pernah naik bajaj, saya sebenarnya kurang tau apa bedanya dua jenis bajaj tersebut, tapi saya turuti saran mereka, sedapat mungkin naik bajaj biru.

dua jenis bajaj

dua jenis bajaj (sumber foto klik gambar)

Eh di suatu siang yang panas dan cukup naas, ternyata tidak ada satupun bajaj biru kosong yang melintas di depan salemba. Bajaj merah sih banyak, hmmmm… akhirnya kepepet juga naik bajaj merah. Sekali-sekali bolehlah. Ternyata oh ternyata, banyak sekali ancaman kesehatan yang saya dapatkan di dalamnya. Posisi tempat duduk saya rasakan agak sedikit ‘nungging’ daripada yang biru, sudah membuat saya yang hamdun agak tidak nyaman. Selanjutnya yang cukup dahsyat adalah getaran dan asapnya! Saya sempat bersyukur bila tidak dalam posisi berhenti karena lampu merah, getarannya berkurang. Tapi masalah lain timbul bila bajajnya berjalan: bisingnya! Ampun deh…benar-benar nggak sehat naik bajaj merah ini.

Alhamdulillah saya sampai di kosan dengan selamat. Bukannya lebay sih, tapi tuh bajaj juga tidak kalah nyalip-nyalipnya sama motor, cuma saya merasa ‘lebih’ safe karena bajaj kan rodanya tiga dan ada badannya, jadi kalo terserempet setidaknya ga kena penumpang langsung dan ga mudah jatuh (amit-amit deh).

Saya jadi mikir-mikir, saya saja sudah merasa tidak sehat walau cuma naik bajaj merah sebentar, bagaimana supirnya ya yang setiap hari berjam-jam menyupiri bajaj? Dominan bajaj merah ini masalahnya menurut saya adalah bising. Kenapa bukan asap? Karena polusi udara di Jakarta ini menurut saya sudah cukup parah bahkan saat saya berada dalam kamar sekalipun. Indikatornya adalah kipas angin saya cepat sekali kotor, dan frekwensi dan kuantitas *maaf* ngupil meningkat daripada ketika saya tinggal di Palembang. Eh, jangan ketawa, beneran loh. Ini tandanya silia dan mukus di hidung saya masih berfungsi dengan sangat baik.

Menurut SK Menaker 1999 (thanks to mbak adelien yang dah bbm gambarnya), agar tidak terjadi ketulian permanen, lama pajanan perhari terhadap bising dalam satuan desibel tidak boleh melebihi ambang berikut:

80 dB ————– 24 jam

82 dB ————– 16 jam

85 dB ————– 8 jam

88 dB ————– 4 jam

91 dB ————– 2 jam

94 dB ————– 1 jam

97 dB ————– 1/2 jam

100 dB ————- 1/4 jam

Saat saya googling ternyata ada penelitian dari mantan residen THT UI (tentu saja sekarang sudah jadi spesialis) yang meneliti dampak kebisingan pada supir bajaj, ternyata kebisingan pada bajaj ini berhubungan dalam menyebabkan gangguan pendengaran dan Tuli Akibat Bising (TAB) pada pengemudi bajaj, tergantung pada lama paparannya dan intensitas bising bajajnya. Mengejutkan sekali karena penelitiannya dilakukan tahun 1997 (hey udah lama banget), dan masih saja bajaj merah berkeliaran hingga 6 tahun kemudian. Walaupun tahun 2006 bajaj BBG siap beroperasi, tetap saja bajaj merah masih setia nangkring nunggu penumpang. Dengar-dengar sih kendalanya karena harga bajaj BBG lebih mahal, hmm.. padahal ongkosnya sama loh…Gimana nih pak gubernur?? (ikut-ikutan ngeyel wkwkwk)

Anyway, pesan saya untuk sementara ini: Naiklah bajaj yang biru, trust me!

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: