Mau Dibawa Kemana?

Denger-denger ada adek-adek yang baru saja selesai internship, selamat yaaaaaaaaa…… Nah pasti dah nentuin nih mau kemana? Atau malah ada yang masih bingung? Biasanya nih, alurnya ada tiga: KKN alias Kuliah/Kerja/Nikah.

rencana dasar setelah tamat kuliah dokter :)

rencana dasar setelah tamat kuliah dokter🙂

Nah, sekarang kita bahas satu-satu ya, berdasarkan keinginan si lulusan.

#1 Ayooooo sekolah……..

Sebagian lulusan dokter menganggap kegiatan belajar di kedokteran merupakan hal yang menyenangkan oh really?, untuk itu ada yang punya cita-cita langsung meneruskan pendidikan lagi setelah disumpah sebagai dokter. Oke, bagi yang mau sekolah langsung, apalagi punya cukup dana yang memadai, sebaiknya menentukan dulu tujuan sekolahnya (ini saya bahasnya secara duniawi ya): apakah nantinya ingin berkarir di bidang tertentu sehingga harus sekolah tertentu, apakah karena sudah kadung cintaaaa banget sama jurusan lanjutan tertentu sehingga terobsesi ingin sekolah di situ, ataukah karena berharap hidup makmur berlimpah uang setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan tertentu?  Kalau boleh saya mengingatkan, tujuan yang terakhir sangat lemah. Jangan pernah menganggap profesi dokter = uang melimpah, karena sebenarnya tidak demikian. Kalau ada yang masih menganggap demikian, yahhh mungkin orang-zaman dulu kali ya.. Sekarang berjibun pekerjaan yang berpenghasilan lebih tinggi dengan cara yang lebih menyenangkan (salah satunya, pernah dengar orang yang dapat duit dari hobi belanja? I think she’s really awesome!!). Lagipula, dokter umum pun juga bisa kaya kok, misalnya dengan punya usaha klinik, atau usaha yang lain.

Oke, setelah memantapkan tujuan, lanjut memilih program sekolah mana yang akan diikuti. Secara garis besar bisa dibagi ke program spesialistik (PPDS) ataupun yang lebih bersifat akademis (S2). Pemilihan program ini juga ditentukan dari cita-cita kamu ya, atau ada yang cita-citanya terserah jurusan apa saja asal sekolah spesialis?

kkn

Saya dapat satu bagan lucu tentang alur pemilihan spesialis, just for a joke… Ngambilnya dari tulisan Kak Ma, yang katanya diambil dari Sibermedik.

alur spesialis gokil..heheh

alur spesialis gokil..heheh

Atau kamu mau ikut jejak saya? Ngambil S2 karena saya profesinya dosen. Tapi saya kerja dulu sih, nggak langsung sekolah. S2 juga bermacam-macam, dan saya pikir sih lebih beragam, tergantung universitas. Misalnya S2 gizi saja, di berbagai universitas gelarnya lain, kurikulumnya lain, di bawah fakultas yang lain-lain (bisa pertanian, kedokteran, atau kesehatan masyarakat). So, sangat tergantung kita lulusan apa, nantinya mau kerja di mana.

Nah, kalau kamu udah niat mau langsung sekolah, mau tidak mau kamu harus prepare dan aware dengan segala syarat-syarat yang harus disiapkan, diantaranya:

  • Uang. Ini syarat absolut ya. Nangkring di WC umum aja bayar, apalagi mau sekolah. Bersyukurlah bila punya orangtua yang siap sedia mencurahkan segala daya upaya untuk menyekolahkan kamu. Tapi kalau tidak ada? Yaaaa, mungkin selama kamu kuliah ada tabungan yang cukup lumayan dari usaha sampingan (jualan di bursa mahasiswa, jasa translate, bikin buku, jadi MC, penyanyi (kayak Tompi tuh…). Nggak ada uang, nggak ada tabungan? Cari beasiswa aja. Kalau PPDS ada namanya beasiswa BK tapi kalo belum punya tempat kerja tetap ya kamu mesti siap ditempatkan dimana saja. Saya sih nggak punya pengalaman tentang ini, so, kamu bisa googling saja pengalaman dari dokter lain, atau nanti kalu ada sobat saya yang nulis blog tentang ini, saya update deh artikel ini. Untuk S2, asal rajin-rajin googling atau subscribe di grup atau situs tertentu, kita akan mendapatkan info-info beasiswa, misalnya di FB ada scholarships – Beasiswa yang kebetulan saya ikuti. Yang harus diingat, biaya pendidikan itu berbeda di masing-masing institusi, dan tidak semua beasiswa memenuhi seluruh kebutuhan biaya kita, apalagi kalau kita sekolah di luar kota  yang mengharuskan kos, naik angkutan umum dan sebagainya, harus dihitung juga biaya hidupnya. Biasanya beasiswa memberikan dana SPP, buku, dan penelitian, sementara biaya masuk yang jumlahnya paling besar itu harus dirogoh dari kocek sendiri (kecuali beasiswa ke LN). Jadi tetap saja mesti siap uang sendiri.
  • Nilai. Zaman saya dulu, ada istilahnya IPK S.Ked tidak penting untuk lanjut sekolah, karena yang dilihat adalah IPK dokternya (yang sudah pasti semua lebih dari 3, karena merupakan syarat lulus). Sekarang, hal itu sayangnya mungkin tidak akan berlaku lagi, setidaknya di UI, tempat saya sekolah. Untuk penerimaan tahun ini, IPK yang dipakai adalah IPK S.Ked dan dokter, masing-masing dikali dengan jumlah sks, ditambahkan, lalu dibagi total jumlah sks, harus di atas 2,75. Sebaiknya untuk sejawat orde lama yang ingin sekolah lagi bergegas mendaftar sekolah, karena bisa saja syarat ini malah diikuti universitas lain, mengingat lulusan KBK juga pasti semua IPK nya di atas 3 karena merupakan syarat lulus dari S.Ked juga demikian. Komponen nilai spesifik yang menunjang jurusan juga kalau bisa dijaga, nggak lucu kan mau masuk spesialis syaraf misalnya, tapi nilai syarafnya D. Untuk S2, tentu saja nilai S.Ked sangat penting, apalagi kalo mau sekolah di LN, yang dilihat adalah nilai S1 nya.
  • Administratif. Setelah tamat, jangan malas untuk melegalisir semua berkas-berkas seperti transkrip nilai, ijazah, sumpah dokter, dan lain-lain yang perlu dilegalisir, supaya  tidak kelabakan nantinya, karena tidak semua institusi yang ‘one day care‘ hehee. Apalgi kalau sekolahnya di luar kota seperti saya, kalau kurang legalisirnya, kan rada repot titip sana-sini. Jangan lupa memfotokopi sertifikat atau piagam yang menunjang. Kalau zaman saya, saat tamat harus melapor ke Dinkes provinsi setempat supaya menerbitkan Surat Bukti Lapor. Saya tidak tahu sekarang masih perlu atau tidak, yang jelas, saat akan membuat surat izin mengikuti PPDS/ surat tunda PTT (bagi yang sedang PTT dan dipending dulu karena PPDS)/ surat selesai masa bakti PTT baru-baru ini, ternyata masih dibutuhkan fotokopi Surat Bukti Lapor untuk dikumpul ke Dinkesprov. Oia, walaupun belum pernah PTT, tetap bisa ikut tes PPDS di departemen tertentu yang tidak mensyaratkan PTT, ada surat izin mengikuti PPDS yang diterbitkan oleh Dinkesprov, tetapi ada surat pengantar sebelumnya dari daerah. Untuk lebih jelasnya, silahkan menghubungi Dinkesprov ya. Selalu siapkan pas foto dengan beragam ukuran standar karena bila perlu mendadak tidak perlu cuci cetak lagi. Untuk S2 persyaratan surat-menyuratnya tidak teralalu ribet seperti PPDS.
  • Bahasa Inggris. Tergantung dari tempat kita mendaftar, dalam negeri atau luar negeri dan di institusi mana. Ada yang mensyaratkan ILETS, ataupun TOEFL. Beberapa departemen di UI malah mewajibkan TOEFL yang diadakan di bagian ataupun harus di LIA UI dan LIA Pramuka Jakarta. Skor bervariasi, untuk amannya di atas 500. Beberapa bagian malah mensyaratkan 550. Jadi tidak ada salahnya sembari kuliah S1, sembari les bahasa inggris ya.

#2 Kerja dulu ah……..

Ada yang sebelum tamat udah gatelll pingin menerapkan ilmunya kepada pasien, ada yang menggebu-gebu ingin langsung mengabdi di daerah, ada yang sekedar cari-cari pengalaman di klinik kecil dulu biar lebih mantap, ada yang ingin cari uang. Nah niat terakhir kali ini tidak saya salahkan untuk poin mencari kerja. Bagi yang tongpes saat tamat seperti saya, saya butuh pekerjaan untuk hidup mandiri, atau untuk meneruskan sekolah. Apalagi kalau dokternya lelaki yang sudah ingin meminang seseorang, butuh modal toh!

kkn

Dokter kerjanya nggak melulu menghadapi pasien sakit kan, banyak jalur lain, misalnya di bagian pendidikan, administrasi kesehatan, struktural, asuransi, kesehatan kerja, dan lain sebagainya. Untuk dokter umum, bisa memasuki semua jalur tersebut meskipun tidak langsung dapat jabatan ya. Kita bisa bekerja sendiri dengan membuka praktek mandiri, tentu saja ada surat-menyurat yang harus disiapkan, modal tempat usaha, alat dan lain sebagainya. Biasanya, kalau belum punya modal untuk buka praktek sendiri, mungkin kita bisa memilih bekerja pada orang lain. Bila kita memilih bekerja untuk orang lain (bukan membuka praktek mandiri), maka secara garis besar kita dapat memilih bekerja di lembaga pemerintah atau swasta. Lembaga pemerintah bisa sebagai PNS ataupun pegawai BUMN/BUMD. Lembaga swasta lebih banyak dan beragam lagi, dari jadi dokter RS swasta, asuransi, hingga di perusahaan obat. Berdasarkan pembagian sistem kerjanya, saya membaginya menjadi pekerja tetap, kontrak, dan freelance.

  • Tetap: artinya status kamu  adalah pegawai yang punya gaji tetap setiap bulannya, berhak atas asuransi kesehatan, berhak atas bonus-bonus, tunjangan keluarga, ada jenjang karir. Contohnya kamu menjadi dosen tetap, dokter tetap di suatu RS, dosen PNS di puskesmas, PNS di dinas tertentu dan sebagainya. Untuk masuk menjadi pegawai tetap, biasanya ada tes masuk terbuka yang harus rajin dipantau karena persaingannya ketat, baik di lembaga swasta maupun pemerintah. Biasanya pengumumannya ada di koran dalam waktu terbatas, atau secara online di situs resmi lembaga tersebut.
  • Kontrak: artinya kamu bisa dapat gaji tetap setiap bulan, bonus-bonus tertentu, mungkin tidak ada tunjangan. tidak ada jenjang karir, dan ada batas waktu habis masa kerja dalam beberapa tahun. Contohnya kamu menjadi dokter PTT dosen kontrak, dokter kontrak di RS swasta, dan sebagainya. Untuk cari-cari tahu info PTT, kamu bisa bergabung dengan grup PTT di FB, kalau saya gabungnya dengan grup Dokter PTT Pusat, walaupun saya ternyata akhirnya nggak jadi PTT.
  • Freelance: ini istilah yang saya buat yang menggambarkan kondisi kerja yang ‘serabutan’, maksudnya adalah jadwal kerja mungkin tidak tetap (terkadang bisa tetap), tidak ada gaji tetap (yang ada mungkin upah setiap kali kerja), penghasilan tidak menentu, bisa saja setiap hari sibuk mencari tempat mana yang membutuhkan tenaga kita. Contohnya adalah kalau kamu kerja di klinik-klinik kecil, yang mungkin saja kamu cuma menggantikan dokter freelance lainnya yang tidak dapat hadir. Untuk mencari-cari klinik mana yang sedang butuh, lagi-lagi kamu bisa gabung di grup FB, di search aja, karena saya kebetulan tidak bergabung dengan grup tersebut. Saya juga kadang-kadang menyebut istilah dokter UGD yang bekerja shift tanpa kontrak dengan jadwal tidak tetap dan tanpa gaji tetap sebagai freelance, walaupun kalau untuk di RS, freelance-nya lebih terjamin dari segi upah dan kestabilan pekerjaan..hehehe.

Untuk yang niatnya mencari pengalaman dulu, kerja freelance nggak ada salahnya. Tapi kalau bisa, cari freelance yang bermartabat ya, maksudnya dari segi upah tidak semena-mena, tidak boleh memaksa memberikan obat-obat tertentu yang tidak dibutuhkan pasien untuk kepentingan klinik. Ingat five star doctor? You are a care provider and decision maker! Jangan merugikan pasien demi kepentingan uang. Sebelum tergoda melakukannya, bayangkan, bagaimana seandainya itu terjadi pada keluarga kamu?

Untuk yang niatnya nanti sekolah PPDS, mungkin bisa mengambil jalur PTT (karena kalau PNS harus menunggu selesai prajab, tapi mungkin saja lebih mudah mendapat beasiswa). Walaupun ada bagian yang tidak mewajibkan PTT, namun tidak bisa dipungkiri, PTT bisa menjadi poin untuk kelulusan. Apalagi kalau PNS, sepertinya lebih diutamakan. Untuk  yang niat sekolah S2, tidak perlu PTT.

Untuk yang niatnya mencari uang sebanyak-banyaknya, misalnya karena ingin menikah dalam jangka waktu dekat, atau ingin mengikuti seleksi sekolah secara perorangan (bukan utusan darimana-mana) supaya lebih bebas memilih jurusan, atau ada niat menghajikan orangtua, saya sarankan bekerjalah di lembaga swasta bergaji besar (misalnya di perusahaan minyak), ataupun BUMN yang makmur menggaji karyawannya. Tapi kontrak saja ya, karena kalau tetap malah nanti tidak bisa sekolah lagi.

Tambahan nih, baik mau bekerja sendiri, bekerja di UGD, ataupun mau sekolah PPDS, jangan lupa ada pelatihan wajib minimal yang harus diikuti: ACLS dan ATLS. Selebihnya tergantung dari institusi masing-masing mensyaratkan apalagi. Biasanya, saat 6 bulan mau tamat, sudah sibuk liat-liat jadwal pelatihan, karena biasanya ATLS ini ngantri dan tidak selalu ada (saya lupa berapa kali setahun), sedangkan ACLS asal orangnya memenuhi kuota biasanya bisa diadakan, yang penting masuk list dulu. Untuk PPDS tertentu ada syarat khusus jangka waktu pelatihan, misalnya di kardiologi UI, kalau tidak salah ACLS harus minimal 1 tahun terakhir (CMIIW ya…), pelatihan EKG perlu banget tuh. Ingin mengambil bagian lain? Jangan lupa ikut pelatihan kegawatdaruratan dalam bidang itu, bisa jadi nilai tambah dan bikin kamu makin pede. Mau masuk Obgyn? Jangan lupa ikut pelatihan USG. Kerja di perusahaan? Jangan lupa ikut pelatihan hiperkes. Ya, semacam itulah,, banyak-banyak bertanya dan perluas pergaulan ya..

#3 Get Married…ahayyyyyy

Nah, yang ini biasanya karena sudah punya cem-ceman semenjak kuliah ciyeciye.. Yaahh, nggak ada salahnya sih langsung menikah, hidup bisa jadi lebih tentram. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa mungkin akan mengubah planning kita yang mungkin kita bisa lakukan saat hidup masih sendiri (tidak melulu negatif loh). Perubahan ini salah satunya bisa disebabkan oleh profesi pasangan yang kita nikahi loh. Jadi mesti direncanakan matang-matang secara bersama-sama supaya tidak terjadi benturan cita-cita.

kkn

Misalnya kita menikah dengan sesama dokter: keuntungannya adalah sudah saling mengerti profesi satu sama lain, tapi mungkin saja sama-sama sibuk. Karena mungkin saja keduanya punya cita-cita untuk sekolah lagi, harus dibicarakan siapa yang nantinya mau sekolah duluan, siapa yang akan membiayai dan sebagainya.

Bila menikah dengan paramedis lain, misalnya perawat atau bidan, mungkin bisa mengerti profesi dan tidak terlalu sibuk, malah mungkin bisa diajak bikin praktek mandiri? Ciye,,, romantis amat.

Bila menikah dengan yang berprofesi lain, mungkin sejak awal harus tahu kondisi pekerjaan pasangannya, misalnya tidak menuntut atau marah bila pasangannya harus jaga malam..hehe.

Nah, kehidupan akan semakin kompleks kalau ternyata: Kamu positif! (hamil maksudnya). Bagi saya sih it’s a happy news! Tapi ada juga yang kaget karena sudah berencana PPDS tahun ini misalnya, jadi terhambat karena hamil (beberapa bagian mensyaratkan untuk tidak hamil selama semester tertentu). Hal inilah yang menyebabkan beberapa dokter menunda pernikahannya, atau menunda kehamilannya (kalau bisa). Untuk dokter laki-laki sih tidak ada syarat tidak boleh hamil wkwk, tapi yang mesti diingat adalah pengeluaran akan bertambah. Sejak hamil saja ada biaya check up, senam hamil, beli baju hamil, susu hamil hihihi (yang tiga terakhir saya tidak pakai tuh), biaya melahirkan, hingga biaya membesarkan. So, tentu saja kebutuhan semakin bertambah, pastikan ini tidak mengganggu kelancaran dana sekolah kamu ya.

#Simpulan

  • Apapun yang kamu pilih, jangan lupa niatnya karena Allah ya….
  • Kita memang bekerja untuk mendapatkan uang, namun caranya mesti baik dan benar ya.
  • Sekolah itu butuh uang, dengan jumlah lumayan banyak, persiapkan dirimu.
  • Sekolah itu butuh perjuangan, tentukan cita-citamu sendiri, jangan sekolah karena terpaksa. Jangan karena gengsi. Jangan karena anggapan orang. Jangan menjalankan mimpi orang lain.
  • Jangan sekolah dengan harapan akan kaya. Sekolah itu harapannya mendapat ilmu. Yang ada malah sekolah membutuhkan biaya. Berharaplah dapat bekerja dengan lebih baik setelah update ilmu, urusan uang yang nanti didapat itu urusan rezeki. Hal yang terpenting adalah kita suka, menikmati, dan bahagia dengan cita-cita kita sendiri.
  • Bila belum punya dana bekerjalah sebaik mungkin untuk mendapatkan rezeki.
  • Pernikahan juga ibadah, jangan dipersalahkan sebagai penghambat cita-cita.
  • Rajin-rajin bertanya dan mencari informasi resmi dari instansi terkait untuk lowongan kerja, ataupun sekolah. Setelah dapat informasi resmi, baru tanya pengalaman-pengalaman sejawat yang sudah duluan menempuh jalur tersebut. Bila kita hanya bertanya pengalaman orang, syarat-syarat mungkin ada yang mengalami perubahan dari zaman ke zaman.
  • Ikuti pelatihan yang berkaitan dengan tujuan kita, apakah mau sekolah, kerja mandiri maupun kerja di tempat orang lain.

Demikian adek-adek, mungkin ada sedikit gambaran ya… hehe,, walaupun mungkin rada ngalor ngidul… Sampai jumpa di postingan selanjutnya…

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

18 responses to “Mau Dibawa Kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: