Dokter = Buruh?

Kemarin nonton di TV, ada demo buruh lagi. Tuntutannya adalah menolak penundaan kenaikan upah, menuntut jaminan kesehatan, menolak  outsourcing, dan sebagainya. Intinya adalah masalah kesejahteraan.

Tiba-tiba gambar orang-orang demo di TV berubah menjadi orang-orang berjas putih di mata saya. Astaga… *kucek-kucek mata. Merinding saya, mengingat teman-teman saya yang PTT di pedalaman yang pernah mengalami penundaan gaji (atau upah ya?) sampai berbulan-bulan. Ingat pengalaman saat saya dulu masih kontrak, saya pernah mengalami penundaan gaji (bahkan nyaris tidak digaji) selama 6 bulan, yang akhirnya dibayarkan saat dua bulan status saya menjadi CPNS (ikut CPNS pakai tes lagi loh, mana bisa kayak di demo di TV yang menuntut karena nggak diangkat PNS setelah honor lama). Saya merasa seolah-olah dokter sama saja dengan buruh di lembaga pemerintahan. Sebagai manusia normal, makhluk hidup, tentu saja saya butuh uang, saya butuh makan sehari-hari, saya butuh bensin, butuh pakaian layak sebagai seorang yang bekerja setelah selama kuliah saya memakai baju itu-itu saja. Cuma kebutuhan dasar saja, bagaimana dengan keinginan saya untuk sekolah? Masih jauh.  Saya sudah malu meminta ke orangtua, lalu sempat mencari seseran di bidang lain, bergadang, yang penghasilannya dalam bulan ke 6 itu ternyata nominalnya sama dengan  gaji CPNS saya yang dibayarkan setelah 4 bulan saya diangkat CPNS. Dan tentu saja, nominal gaji CPNS yang hanya cukup untuk kebutuhan dasar ini bertahan selama 2 tahun sebelum akhirnya tiba masa prajab, berganti 80% – menjadi 100% gaji, yang tentu saja dibayarkannya rapel lagi pada bulan kesekian setelah SK keluar. Nominalnya? masih di bawah tuntutan upah buruh. Saat jadi PNS, barulah ada tunjangan keluarga, sekedar untuk membeli beras. Mengurus jaminan kesehatan? Saya mengurus sendiri, dan dipotong dari gaji saya. Ada tambahan lain, misalnya menjadi panitia pengawas ujian? ‘Upah’ saya masih kalah dengan honor S1, D3, bahkan tamatan SMA-non dokter yang jadi panitia, sebab dengan nominal yang sama, saya harus dipotong pajak sekian persen karena saya PNS. Naik pangkat dan golongan? Naik pula persenan pajaknya.

Ini cuma buat gambaran saja ya… Saya tidak mengeluh masalah nominal gaji, saya sudah tau PNS memang bergaji kecil. Saya hanya sempat menyesalkan penundaan-penundaan kesejahteraan yang seharusnya didapatkan pada waktunya (sesuai kontrak), karena keringat bukan lagi sudah kering, tapi  terlanjur berkeringat lagi. Saya juga tidak menyesal menjadi dokter/ dosen yang PNS. Walaupun dibandingkan PNS dengan golongan yang sama, dengan tuntutan yang lebih berat, gaji bisa sama (jangan lupa bahwa titel dokter ini membebani terhadap kesiagaan 24 jam dimanapun berada heheheh). Karena sebelumnya sudah diberi tahu bahwa saat diterima golongan kamu ini, dengan kisaran gaji ini, no bargain, dan saya setuju. Saya tidak tahu apakah buruh yang berdemo itu sudah tau apa yang menjadi haknya sejak awal pertama kali bekerja (tertuliskah di dalam kontrak?). Karena apabila sudah tertulis, dia tanda tangan, dia setuju untuk bekerja, tapi setelah bekerja ia ingin menuntut lebih lagi, mungkin saya bisa bilang kurang bersyukur ya. Namun bila ternyata tidak sesuai kontrak, melanggar perundang-undangan, ya wajar dong mereka demo. Tapi kalo dokter demo karena haknya dilanggar (emang haknya loh…. bukan menuntut yang nggak ada), gaji ditunda bulan berikutnya, insentif dipotong secara gelap? Orang pasti geleng-geleng, wahhh nggak pengabdian katanya. Waduh, jadi salah lagi.

Saat itu saya masih sendiri, bayangkan bila saya adalah tulang punggung keluarga? Dengan kebutuhan yang meningkat, wajarkah bila tidak akan konsentrasi dengan pengabdiannya sebagai PNS di satu tempat saja? Lalu ini menjadi sesuatu yang dipersalahkan pula. Dokter punya kewajiban update ilmu, mengumpulkan kredit dari seminar-seminar, pelatihan-pelatihan yang biayanya tidak sedikit. Lalu apabila ada perusahaan obat yang mau mensponsori asal blablabla, maka ini akan menjadi sesuatu yang dipersalahkan pula. Atau bila saya idealis, saya keliling-keliling praktek, di luar jam kerja saya (setelah pukul 4 sore) mencari tambahan, pulang malam ataupun besok paginya. Walaupun akhirnya saya jadi kelihatan banyak uang karena banyak seseran, apakah itu adalah satu bentuk kesejahteraan? TIDAK.

Sejahtera itu bagi saya adalah bekerja di satu tempat dengan sebaik-baiknya sesuai kewajiban, dengan gaji yang mencukupi, dengan jam kerja yang tetap dan tidak melebihi batasan sehingga masih punya waktu untuk keluarga, masih bisa menjadi makhluk sosial yang normal, masih tidak terancam kesehatannya karena cukup istirahat, cukup makan dan tidak stres.

Bila tuntutan kenaikan upah buruh, jaminan kesehatan, dan lain-lain tuntutan mereka dipenuhi, Wowww (sambil koprol dalam pikiran) saya pikir buruh akan lebih sejahtera dari dokter yang bekerja di lembaga pemerintahan..hehe.. Karena kalau perusahaan itu swasta, dan mereka menyanggupi memberikan kesejahteraan, alangkah mirisnya bila pemerintah justru berlaku sebaliknya. Kalau kata teman saya, profesi dokter itu manis dilihat tapi pahit dimakan. Inilah adanya, tetap semangat ya teman-teman yang kerja di pemerintahan! Saya kadang bermimpi, bagaimana kalau pelatihan-pelatihan yang berbiaya mahal itu digratiskan saja ya bagi PNS, sekolah juga digratiskan ya (beberapa dikasih beasiswa tapi saya tidak tahu apakah uang masuk pertama juga dibantu), maksudnya supaya konsen loh kerjanya #terus ditimpuk sama atasan karena hal itu tidak ada dalam peraturan hahaha… Dasar ngeyelll…hahah..

-Dokter juga manusia, butuh makan, butuh ‘kehidupan’, bisa sakit, bisa mati-

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: