Dokter Umum vs Spesialis

Seringkali ada pertanyaan lanjutan saat setelah seseorang bertanya ‘profesinya apa’, yaitu ‘dokter apa?’ yang jawabannya merujuk apakah ‘masih dokter umum’ ataupun ‘sudah spesialis’. Disadari atau tidak, di Indonesia sepertinya dua titel di atas merupakan ‘kasta’. Ada setidaknya dua mitos yang sring beredar di masyarakat tentang du titel ini.

#Mitos 1: dr spesialis lebih pintar

Secara kompetensi tentu saja dr spesialis punya nilai lebih, karena dia mendalami kompetensi khusus setelah dia menyelesaikan kompetensi dokter umumnya. Sama dengan saya S2, yang baru bisa ditempuh setelah lulus S1. Tapi S2 yang saya tempuh merupakan standar minimal sebagai dosen untuk mengajar S1. Artinya saya tetap harus memahami dan terus terpapar dengan sejauh mana kompetensi lulusan S1. Dan seharusnya pula, bagi dr spesialis yang mendapat tugas mengajar jenjang S1 kedokteran, harus paham pula sebatas mana kompetensi S1 sehingga dalam mengajar tidak terlalu jauh, dalam membuat soal tidak terlalu spesialistik, dan dalam menilai kebisaan mahasiswa sesuai dengan kompetensi S1. Hal ini kadang-kadang ada saja terlupa. Maklum, setelah menjadi dr spesialis, haruslah praktik sesuai kompetensi barunya sebagai dr spesialis. Registrasi bukan lagi sebagai dokter umum, persyaratan kredit seminar sudah spesifik, dan tentu saja seharusnya tidak lagi berpraktek sebagai dokter umum (walaupun masih terjadi).

Secara gelar akademis, memang berupa tingkatan, tetapi secara skill dua titel ini memiliki ranah yang berbeda, saya pikir tidak bijak untuk membandingkannya. Hal ini tergantung dengan dimana ia bekerja, dan sebatas mana kompetensinya. Apalagi kalau dihubungkan dengan alat canggih. Tidak bisa mengatakan dokter umum lebih bodoh dari dr spesialis karena tidak bisa memakai alat echo, misalnya. Secara halusnya, orang kardiologi tidak lebih pintar daripada dokter umum karena dia bisa memakai alat echo. Bila seseorang memiliki kemampuan sesuai kompetensinya itu sih biasa saja, hal yang wajar. Lain halnya kalau dr umum ternyata bisa memakai alat echo, wowww mungkin dia punya kelebihan. tapi kalau dia gunakan itu untuk praktek, nah itu pelanggaran kompetensi. Sebaliknya, saya pernah baca cerita di internet (entah dimana) kalau tidak salah tentang pasien yang sudah berobat ke spesialis tidak sembuh-sembuh, ternyata dokter umum mendiagnosis pasien cacingan, memberi obat cacing, dan ternyata sembuh. Apakah dr spesialisnya dianggap bodoh karena hal itu? Saya pikir tidak, karena dr spesialis sudah memikirkan hal lain yang lebih spesifik dibandingkan sekedar cacingan biasa yang seharusnya tuntas di dokter umum. Salah siapa coba? Carut-marut alur pelayanan kesehatannya mungkin.

 

#Mitos 2 dr spesialis lebih kaya

Kalau ke dokter umum ditarik 25 k, kalo ke spesialis ditarik 80 k. Wow,,, kaya ya kalo jadi dr spesialis!! Iya sih,, kalau pasiennya sama banyak. Lah kalo yang spesialis pasiennya doremi, tapi yang dokter umum 5o orang? Hayo gedean yang mana… Artinya masalah pendapatan itu relatif ya. Ada beberapa bagian yang dibilang spesialis ‘kering’, tapi ternyata tidak semuanya loh, tergantung rezeki dari Allah ya… Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah ngambil spesialis karena niat ingin kaya, hapusss..hapusss.. nanti kecewa kalau ternyata rezekinya beda. Pendapatan yang tidak tetap seperti ini sangat riskan untuk dibandingkan..heheh. Saya pernah diceritakan tentang seorang dr spesialis yang pasiennya rame bejibun, nampaknya sangat sukses. Orang-orang nampak takjub dan secara tidak langsung bilang “tuh jadi makanya jadi dokter sepsialis, biar sukses kayak gitu, pasiennya banyak, belajar tuh gimana caranya dengan pasien”. Eh,eh… ternyata tuh dokter spesialis prakteknya rame karena dia buka prakteknya sebagai dokter umum..gubrakkk (bukan main carut marutnya sistem kesehatan kita). Boleh nggak saya berpikir ini juga melanggar kompetensi? Menurut saya ia justru tidak sukses karena harus turun ‘kasta’ untuk kelihatan berhasil.

Saya pikir dua titel ini lebih mengarah ke tim. Yang satu di garda depan, yang satu di garda spesifik. Sayangnya sekarang banyak pasien bisa langsung ke dr spesialis tanpa melalui dr umum dulu, padahal cuma sakit kepala biasa, misalnya. Apalagi untuk ke dokter umum di puskesmas, wah boro-boro. Saya khawatir angka kesakitan laporan dari puskesmas mungkin tidak menggambarkan angka sebenarnya dari penduduk setempat. Orang kontrolnya langsung ke dr spesialis..hahaha..

Selain perbandingan di atas, terkadang juga sesama dokter umum atau sesama dokter spesialis saling merendahkan. Yah,, maklumlah ada yang tugas di desa terpencil, ada yang di kota, jadi mungkin obat-obatan yang dikenalnya cuma obat generik puskesmas. Tapi kalo masalah pemeriksaan fisik dengan alat terbatas siapa tau dokter di daerah terpencil lebih jago. Atau misalnya antara dr spesialis bagian A menganggap dr spesialis bagian B lambat menangani pasien. Padahal spesialis di tiap bagian itu beda-beda pendekatannya terhadap pasien. Ada yang harus cepat tanggap, ada yang biasa menangani pasien penyakit kronis yang tidak perlu penanganan buru-buru. Tidak bisa dibandingkan toh, rujukannya beda.

Intinya: marilah TS, perlakukan sesama TS sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bila ada ilmu bisa disharing, ilmu itu milik Allah, kita hanya punya sebutir debu. Mari saling mengisi dan melengkapi. Bekerja bersama demi mewujudkan Indonesia Sehat!!

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: