Tukang Obat

Suatu hari ada teman yang bertanya lewat bbm, dia mengeluh sakit kepala, demam, flu; obatnya apa?

Tiba-tiba saja berkelebat ingatan berbelas tahun silam, saat saya masih SMP, saya menemani ibu saya ke toko obat cina. Polanya sama, ada pertanyaan ‘obatnya apa?’ terhadap keluhan kesehatan yang dideritanya. Si tukang jual obat manggut-manggut dan langsung mengambil botol obat, menjelaskan manfaat obat, cara pakainya, dan harganya.

Tiada disangka setamatnya menjadi dokter saya ternyata mendapat pertanyaan yang sama seperti pertanyaan ke tukang obat..hehehe. Bedanya saya agak segan menjawab obat apa. Karena saya tidak bertemu dan memeriksa pasien secara langsung, saya harus tahu kira-kira apa penyebabnya, dan kebetulan saya dan suami saya memang sebisa mungkin tidak minum obat. Loh kok dokter tidak percaya obat? Saya percaya obat medis maupun obat tradisional kok. Namun kami berdua punya keyakinan bahwa penyakit sebagian besar diakibatkan oleh ketidakseimbangan memperlakukan tubuh, ataupun jiwa.

Apalagi kalau ada pasien yang nanya obat bermerek, wah sedikit sekali yang saya tahu, mungkin ini kekurangan saya. Jujur saja, saya mesti buka MIMS atau ISO dulu untuk tahu apa kandungan obat bermerek yang zaman sekarang kadang-kadang sudah tidak mirip lagi namanya dengan nama generiknya. Maklum saya tidak praktek di RS, saat praktek di rumah saya meresepkan nama generik. Paling-paling saya tahu merek obat dari souvenir saat seminar, tapi kalau tidak pernah saya resepkan sehari-hari tentu saja saya tidak ingat. Apalagi kalau ada yang nanya obat merek A berapa hargany, mahal apa nggak? Wahh, saya bego banget urusan itu.

Saya bukan anti obat bermerek ya (obat paten), karena saya pikir beberapa memang memiliki benefit. Saya ingat dulu saya pernah minum satu jenis antibiotik yang membuat saya mau muntah karena baunya pesing seperti urin, tapi ketika saya minum yang bermerek A dengan kandungan yang sama, bentuknya dikapsulkan dengan granul-granul di dalamnya, sama sekali tidak pesing, memang harganya lebih mahal. Ataupun misalnya ada obat bermerek B yang berisi kombinasi dan sinergis, saya lebih memilih itu daripada saya harus menelan 2 tablet obat generik (dari segi kepraktisan). Kadang-kadang ada pula pasien yang sudah percaya dengan obat generik ataupun paten merek tertentu saja. Misalnya ayah saya yang kalau makan antalgin mati-matian pingin yang bungkus generik, dan tidak merasa sembuh dengan yang merek paten walaupun isinya sama. Atau ada pasien saya yang bilang, dok boleh nggak obat generik di resep ini saya beli yang patennya? Yaahh masalah keyakinan ya, daripada tidak minum obat misalnya, silahkan saja.

Tapi balik-balik lagi, saya memang segan meresepkan obat. Yah, saya tahu mungkin hal ini bisa membuat pasien saya sepi, tapi bukankah terapi itu bukan hanya obat saja. Kembali ke cerita teman saya tadi, ternyata aktivitasnya setiap hari yang luar biasa, menyebabkan kurang istirahat, keletihan ekstrim, dan akhirnya pertahanan tubuhnya berkurang, sakitlah dia. Kembali ke soal keseimbangan memperlakukan tubuh dan jiwa, saya meyakini ada semacam alarm dari tubuh kita bahwa ia butuh istirahat. Entah otot, entah perut, entah pikiran. Maka nasehat pertama saya adalah istirahat. Mengecewakan sekali ya nasehat semacam ini..heheh.. tapi memang saya terapkan sebisa mungkin. Rumusnya ya seimbangkan hidup saja. Kurang tidur –> tidur. Kurang makan –>makan. Kelebihan makan –> kurangi makan. It’s simple!

Untuk penyakit sehari-hari yang bisa ditangani dengan makanan atau obat tradisional, kenapa harus pakai obat kimia? Meriang –> minum wedang jahe. Konstipasi –> makan sayur dan buah. Sariawan –> makan buah yang mengandung vitamin C.  Demam –> kompres, banyak minum air putih dan buah. Nyeri otot –> minyak angin haha. Saya bahkan sampai sekarang kadang-kadang masih suka minum jamu beras kencur tukang jamu gendong. Saya juga percaya jamu-jamuan yang membuat putri-putri keraton ayu dan berkulit bersih..hehhe

Saya ingatkan ini untuk keluhan ringan sehari-hari ya, jangan terbalik. Lebih ditujukan untuk menjaga kesehatan, atau membantu menghilangkan gejala ringan, bukan mengobati. Soalnya sekarang kadang terbalik, sakit kepala dikit minta obat kimia, eh nanti ada yang jelas-jelas butuh obat medis malah minum obat alternatif (herbal) saja misalnya, nggak nampollll…

Memang saya akui sulit, dengan tuntutan hidup jaman sekarang, jangankan profesi lain, dokter pun cenderung menyiksa tubuhnya dengan kurangnya istirahat, aktivitas tinggi, tingkat stres tinggi, dan kadang tidak sempat makan. Akibatnya butuh ‘dopping’ untuk mengatasi keletihan yang tidak bisa dihindari ini, minimal pada minum vitamin atau antioksidan. Ya,, secara sederhana ini bisa diibaratkan dengan banjir di pinggiran kali jakarta. Penduduk tidak mau migrasi ke tempat lain yang lebih layak karena lebih dekat dengan mata pencaharian bila tinggal disitu, atau tidak ada uang untuk membayar sewa di tempat baru yang lebih mahal, tapi kegiatan membuang sampah sembrangan tetap dilakukan. Intinya, bagaimana dengan tetap memilih (atau harus) hidup seperti itu tapi mereka tidak kebanjiran, apa obatnya Pak Jokowi?  Sulit dijawab. Sama seperti ada pasien yang bertanya obat apa untuk menghilangkan batuknya tanpa ia harus berhenti merokok. Atau obat apa yang harus diminum supaya dia bisa makan udang yang menyebabkan dia alergi. Atau obat apa yang harus dia minum supaya kolesterolnya tidak naik karena dia tetap mau makan yang ‘enak-enak’. Hmm… ada yang tau?

 

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

2 responses to “Tukang Obat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: