Celoteh: Antara Dokter dan Politik

Sekedar celoteh ringan dari obrolan tidak penting untuk refreshing di blog.Jangan terlalu serius ya.. hehe

Ceritanya seminggu ini lagi rajin nonton siaran politik di TV. Kisruh tentang salah satu pemimpin negara yang turun langsung ngurusin partainya. Beliau mengadakan pertemuan dengan para anggota partainya untuk membahas masalah kisruh internal partainya.

A: Eh, ini pertemuan diadakan kapan ya? Malam-malam ya? Di luar jam kantornya sebagai presiden ya?
B:  Nggak tau. Tapi, btw, emangnya presiden punya jam kantor?
A: Masak presiden nggak punya jam kantor? Kalo PNS aja kan pulangnya jam 4? Ini kan udah masalah pribadi partai, bukan masalah kepresidenan.
B: Lah? Gimana kalau ada ancaman perang misalnya, masak presiden nggak bisa dihubungi karena bukan jam kantornya? Presiden mesti siaga 24 jam dunk.
A: Wah… Kok kayak dokter ya? Mesti siaga 24 jam? Susah juga ya jadi presiden. Berarti seharusnya presiden nggak ngerangkap-rangkap dong ya?B: Iyalah,,, presiden kan milik rakyat.
A: (mikir2, tapi kalau presiden meski 24 jam banyak ‘pembantunya’ ya (menteri maksudnya), kalo dokter 24 jam siaga sendirian..hahah… Enakan mana?

Lagi mikir-mikir juga nih, dokter itu harus siaga 24 jam dalam keadaan apa sih? Nggak bisa ya dokter punya jam kerja yang nggak bisa diganggu kecuali gawat darurat, atau pertolongan pertama semacam klinik 24 jam jauh  dan sulit dijangkau?Pernah nggak ngebayangin, jam 2 pagi kalian dibangunkan karena ada yang pingin suntik vitamin dengan keluhan supaya badannya segar (tidak gawat dan tidak darurat). Jangankan saya yang tidak memasang plang praktek untuk rentang jam itu, dokter jaga UGD yang memang mesti siaga pada malam itu juga barangkali emosi jiwa juga menerima pasien semacam ini. Terus misalnya ada kecelakaan di jalan, seharusnya dokter yang lewat bisa turun dari mobil untuk membantu korban secepatnya. Tapi sekarang mesti liat-liat dulu ya, ada nggak saksi lain, kondusif tidak, karena zaman sekarang sudah berubah, makin barbar. Mau nolong nanti disangka yang nabrak.

Ada lagi berita tentang anggota DPR yang mengundurkan diri dari keanggotaannya karena sudah tidak fokus lagi di DPR akibat mau ngurusin partai dan anaknya juga sedang sakit.

A: Loh, kok bisa ya mengundurkan diri dari melayani rakyat karena alasan pribadi?
B: Kalau demi anak sakit, ya dahuluin anak dong.
A: Loh emangnya kalau anak sakit harus berhenti bekerja gitu ya. Nggak bisa sambil kerja? Lah kerja kan cari duit buat ngobatin anak? Lagian kayaknya dia lebih berat ngurusin partai deh.B: Ya, daripada nggak fokus.
A: Emang bisa mengundurkan diri gitu, dia kan dipilih rakyat, terus sisa waktu tugasnya siapa yang gantiin dong?
B: Ya ada orang lain dari partainya.
A: Tapi kan rakyat bukan milih orang lain buat ngewakilin suaranya.
B: Tau ah.

Saya jadi teringat dengan dokter langganan kontrol hamil yang tidak masuk praktek, ternyata alasannya karena anaknya sakit. Sebagai pasien tentu awalnya saya kecewa, karena diganti dengan dokter lain. Tapi setelah tau alasannya, saya maklum, mungkin terutama karena saya dokter juga ya. Karena kalau saya bukan dokter mungkin bete ya, kayak cerita temen saya:

SMS dari pasien (P): Dok, bisa nggak ke rumah, ibu saya sakit, nggak bisa jalan ke rumah dokter.
Dokter yang juga lagi sakit (D): Keluhannya apa bu? Apa tidak ada yang bisa mengantarnya ke sini. Saya juga sedang sakit. (dan sendirian di rumah dinas)
P: Loh kok dokter bisa sakit sih?
D: Grrrr

Dokter juga manusia kali bu….hehe,,,,

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: