Gratis: Serba Salah

Sementara melanjutkan kuliah, saya ngontrak di sebuah gang dengan rumah yang berdempet-dempetan, posisinya dekat dengan kali di gerbang belakang UI. Di gang ini bisa dibilang status ekonomi dan pendidikannya cukup bervariasi, tapi yang jelas tidak ada yang kaya sekali, rata-rata menengah ke bawah.

Sebagian besar dari mereka nampaknya berhak untuk mendapatkan fasilitas layanan berobat dan pendidikan gratis. Tapi kalau boleh saya ingin cerita kegalauan saya yang menyebabkan saya agak antipati dengan layanan gratis ini. Ada hal-hal yang dulu tidak saya temui di lingkungan tempat tinggal saya dulu, tanpa bermaksud membanding-bandingkan, saya berharap ini bisa menjadi pencerahan.

Setiap pulang berjalan kaki menyusuri lorong, saya selalu menemui warga yang jajan makanan, entah gorengan, mi ayam, bakso, dan lain-lain yang itu bisa hampir setiap hari. Lalu saya melewati rumah kayu seorang kakek yang kurussss sekali badannya dan nafas pun agak susah tapi setiap hari merokok. Kemudian saya menemui lagi ada satu kakek yang juga hobi merokok setiap hari, sedang  jajan cup mie. Saya tertegun. Berapa uang yang mereka keluarkan untuk jajan setiap hari? Padahal harga 3 gorengan yang mereka makan itu lebih dari harga 1 papan tempe yang bergizi. Saya membeli ikan lele segar di pasar 1/2 kg seharga 9000 rupiah bisa untuk makan berhari-hari, dibandingkan 2 mie cup yang sekali habis dalam 2 kali makan. Harga rokok yang mereka beli mungkin sama dengan seliter beras. Anak-anak kecil di depan rumah saya selalu jajan setiap ada jualan makanan yang lewat. Seringkali memaksa, ambil dulu, baru minta orangtuanya membayar. Orangtuanya ini merokok pula.

Ada rasa miris, kecewa, di hati saya. Karena saya yang mendapat gaji tetap pun merasa harus hidup berhemat, demi membayar kontrakan, demi keberlangsungan pendidikan saya, demi mempersiapkan pendidikan anak-anak saya, demi menabung untuk berjaga-jaga bila saya memerlukan dana saat saya dan keluarga sakit. Sejak kecil saya dan abang saya dibiasakan untuk tidak jajan, ibu akan memasak sendiri seadanya untuk cemilan kami. Padahal kami bukan tidak mampu, bahkan kami pun sekolah di swasta favorit saat itu. Tapi mungkin karena tetap saja ada pos pengeluaran yang cukup besar dan harus dipikirkan makanya kami harus berhemat.

Lalu apa yang ada di benak orang-orang ini?? Tidakkah ada lagi yang dipikirkan karena rumah sudah punya walaupun asal bangun dan bukan di tanah milik mereka, dan bila suatu saat digusur mereka akan teriak-teriak bahwa pemerintah tidak pro rakyat kecil? Tidakkah mereka memikirkan mau jadi apa keturunannya nanti karena sudah ada sekolah gratis? (kalau bisa saya usul berikan fasilitas gratis itu berupa barang: seragam, buku, sepatu, agar uang untuk biaya pendidikan tidak dipakai untuk hal lain). Tidakkah mereka sayang dengan kesehatan mereka dan menjaganya dengan baik, karena merasa tenang bila sakit tinggal berobat gratis? Nanti kalo RS penuh dan tidak bisa melayani karena keterbatasan fasilitas, tinggal koar-koar bilang dokter tidak berperikemanusiaan? Bahkan dosen saya bercerita bahwa penelitian yang sedang dilakukannya terhadap ibu-ibu rumah tangga dari golongan masyarakat kurang mampu ternyata menmberikan hasil yang mencengangkan: sebagian besar overweight dan obes. Tidak adanya pekerjaan di rumah, dan banyaknya penjual makanan yang lewat, ditambah kemalasannya memasak sendiri, dan tidak ada pengeluaran yang harus dipikirkan lagi membuat mereka jajan,,,jajan..dan jajan…. Mereka adalah calon-calon penghuni rumah sakit layanan berobat gratis dengan kemungkinan diagnosis sindrom metabolik, DM komplikasi, jantung koroner, dan stroke.

Inikah yang kita inginkan? Apakah ‘gratis’ itu bisa menjadi celah untuk berbuat semaunya?

‘Ya Allah, jangan berikan aku kesempatan mendapatkan hal yang gratis bila itu membuat kemalasanku menjadi-jadi dan menjauhkanku dari menjaga nikmat-Mu dengan sebaik-baiknya. Cukupilah aku dengan rezeki-Mu melalui kerja keras di jalan-Mu, dan buatlah aku merasa bahwa hidup pemberian-Mu ini berharga. Aamiin.”

 

 

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

3 responses to “Gratis: Serba Salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: