Celoteh: Kisruh Media

Saat awal-awal kepindahan saya ke Jakarta tanpa sadar saya malah jadi lebih sering menonton TV. Maklum kalau dulu di Palembang rumah ramai, di Jakarta bila suami sedang pergi sangatlah sepi. Kebetulan karena antena yang dipakai masih indoor saya cuma bisa mendapatkan beberapa channel dan kebetulan stasiun TV ini sebagian besar menyiarkan berita. Dulu, channel ini favorit saya, karena bermacam-macam channel yang ada, lebih banyak memutar gosip artis atau acara hiburan. Sedangkan channel yang satu ini dulunya saya kira lebih mengutamakan fakta. Saya dulu mengira akan tidak update bila saya tidak menonton berita dari channel yang satu ini.

Namun, ternyata sekarang, semakin bertambah jam menonton saya, semakin saya tahu bahwa channel ini basi. Saat saya libur di hari sabtu, saya pernah menghitung dari pagi hingga siang, satu berita yang sama bisa diulang hingga 6 kali. Gambar yang sama, redaksi yang sama, bila ada tambahan kata-kata pun tidaklah menambah informasi. Hanya pembawa beritanya yang berbeda-beda (atau bahasa pengantarnya). Hal ini justru lebih buruk dari channel gosip yang saya tonton, karena bahkan dia cuma menampilkan berita gosip yang sama paling banyak dua kali salam sehari. Itupun dengan redaksi yang berbeda, ada yang singkat, ada yang mengupas satu kasus, cuma memang isinya saja yang tidak penting.

Satu lagi yang saya sesalkan, semakin lama saya tau bahwa channel ini menggiring opini publik ke arah yang mereka inginkan, bukan menampilkan fakta. Hal ini sangat jelas dalam berita-berita bernuansa politiknya. Untuk berita lain, seringkali lebih banyak tanggapan atau opini pembawa acara atau pengantar berita dibandingkan video berita atau wawancara yang merupakan fakta sebenarnya. Saya sekarang jadi malas nonton TV.

By the way, masalah kesehatan sekarang lagi hangat-hangatnya dikisruhkan media elektronik maupun cetak. Judul berita memang boleh dipilih yang menarik perhatian, tapi tidak boleh berlebih-lebihan. Dalam menulis berita, data harus lengkap dan benar, hindari opini yang tidak berdasar. Kemarin suami saya melihat salah satu headline koran lokal yang menuliskan BAYI SEHAT DINYATAKAN MENINGGAL DUNIA. Itu adalah berita tentang kasus bayi prematur, berat badan lahir 1 kg, yang setelah dinyatakan meninggal di rumah sakit, di rumah dinyatakan hidup lagi.

Sekarang saya tidak mau  membahas siapa benar dan siapa salah antara RS dan keluarga pasien, karena bila prosedur pembuktian kematian sudah benar, dan memang saat itu meninggal ya tidak bisa disalahkan juga. Keluarga pun bisa saja mengklaim bayinya hidup lagi, saya tidak heran, sudah lama sekali banyak kisah nyata bahkan yang sudah dikubur berhari-hari pun hidup lagi. Wallahualam.Masalah permintaan uang rawat dan sebagainya ataukah masalah miskomunikasi biarlah pihak yang berwenang menentukan benar salahnya, harus duduk bersama, pihak ketiga jangan langsung menuduh dari klaim aduan semata, karena tidaklah imbang. Saya tidak menyoroti miskin dan kaya, mungkin dari perbedaan tingkat pendidikan bisa menyebabkan miskomunikasi. Tapi saya mohon dengan sangat, mbok ya cari data dulu dong sebelum nulis, masak bayi prematur, cuma lahir dengan berat 1 kg pula dinyatakan SEHAT? Prematur saja berarti pengertian awamnya belum matang, bayi lahir sehat itu di atas 2,5 kg. Tolonglah jangan membodohi masyarakat untuk menaikkan rating atau membuat laku koran Anda!

Saya ingat, dulu saat saya koassisten (sebelum jadi dokter), kami memfollow up pasien jamkesmas maupun pasien kelas 1 dan 2. Namun, perbedaan tingkat pendidikan pasien membuat banyak sekali miskomunikasi dan pada akhirnya menimbulkan isu tidak sedap di masyarakat. Jujur saja, pengalaman saya, ketika memfollow up kondisi tekanan darah pasien kelas 1 setiap pagi, saya merasa lebih nyaman, karena walaupun mereka tahu kami belum jadi dokter, tidak sedikitpun mereka merendahkan kami. Mereka memanggil kami adik, mengajak kami ngobrol, banyak bertanya, memberi semangat, mengucapkan terima kasih, bahkan ada yang tetap saja memanggil dokter. Namun saat saya memfollow up kelas 3 jamkesmas, sebagian besar keluarga pasien memanggil dengan sebutan koasssss (dengan kadang-kadang serupa nada memanggil pembantu), nada melaporkan keluhan keluarganya yang sakit terkesan menyuruh, tidak mengucapkan terima kasih (walaupun kami tidak minta ya), dan seringkali lebih ingin minta panggilkan dokter (sebenarnya residen yang mengambil spesialis) karena pikiran mereka sudah tercemar bahwa ‘pasien miskin ditangani oleh dokter yang belum jadi.’ Padahal kami juga jaga di kelas 1 dan 2 loh, sama saja, mau miskin atau kaya, dan alur lapornya ke yang lebih senior itu sama saja. Terkadang penjelasan terhadap keluarga pasien harus dilakukan berulang-ulang, karena pasien ternyata tidak menangkap apa yang dikatakan dengan baik lalu menyampaikan ke keluarga lain mengenai informasi yang salah. Saya maklum, ini lebih ke masalah pendidikan, bukan miskin atau kaya, karena kadang-kadang orang kaya pun berlaku demikian. Pendidikan di sini bukan hanya yang formal saja, namun juga meliputi pendidikan etika yang didapatkan seseorang dalam keluarga dan masyarakat.

Tapi satu hal yang pasti, masyarakat dengan tingkat pendidikan yang kurang, mudah sekali menerima informasi yang salah tanpa melakukan analisis dahulu, sehingga mudah sekali terhasut. Corong-corong media akan mengarahkan mereka kemanapun media mau.

Satu lagi yang menarik, ada headline di berita, di artikel online, bahkan judul buku yang menyatakan ORANG MISKIN DILARANG SAKIT. Ini tentu saja hal yang sangat menyesatkan, karena baik ORANG KAYA MAUPUN MISKIN DILARANG SAKIT. Saya heran, kenapa hak-hak dasar ini justru didiskriminasi. Kaya atau miskin Anda, sakit itu sama-sama tidak enak.  Apakah Anda berpikir orang kaya akan tenang saja bila sakit? Anda salah besar! Tetap saja pusing. Saya yang punya gaji tetap pun masih saja pusing mengumpulkan biaya melahirkan di Jakarta yang bagi saya tetap mahal. Sama saja kok. Ada rasa cemas bila ternyata saya tidak bisa partus normal dan terpaksa SC, tentu akan mengganggu alokasi biaya sekolah S2 saya. Banyak yang harus dipikirkan. Semua orang memiliki masalahnya masing-masing.

Banyak yang bilang bahwa kita ini melakukan diskriminasi antara miskin dan kaya. Ya, saya setuju, tapi dengan pandangan yang berbeda. Kesehatan dan pendidikan bagi saya adalah hak semua orang, mau miskin atau kaya. Seharusnya semuanya mendapatkan dengan standar yang sama, semuanya bisa mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Tapi pada kenyataannya, yang dapat layanan gratis hanya yang dinyatakan miskin saja. Terlepas dari prosedurnya yang  masih amburadul, tanpa sadar ada pengakuan bahwa negara hanya berupaya menjamin hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan ini  untuk rakyat miskin. Saya hanya takut makin banyak orang nyaman hidup dan mengaku miskin.

Pemerintah jangan selalu terpancing memberikan ikan, tapi berilah kail. Untuk masalah kesehatan, jangan berfokus pada kuratif, tapi pada preventif yang lebih cost effective. Penyediaan fasilitas untuk kuratif itu akan selalu terbatas, akan selalu kurang. Bagi kami, satu nyawa pun tetap penting, namun kalau kita bisa menyelamatkan banyak nyawa kenapa harus memilih meningkatkan fasilitas ‘kesakitan’ daripada ‘kesehatan’? Saat seorang ibu melahirkan bayi prematur dengan berbagai kelainan organ, dan tidak ada fasilitas NICU untuk menolongnya, jangan hanya berhenti sebatas peningkatan fasilitas NICU, telusuri kemungkinan penyebabnya: apakah ibu tersebut malnutrisi (buat program perbaikan gizi pada ibu hamil misalnya), apakah selama hamil tidak memeriksakan diri secara rutin di fasilitas kesehatan (yang sebenarnya gratis itu), apakah ibu tersebut adalah seorang pekerja yang terlalu capek bekerja saat hamil (sehingga butuh memperbaiki kebijakan perusahaan terhadap pekerja wanita hamil misalnya), apakah usia ibu saat hamil terlalu muda atau tua, apakah ibu mengkonsumsi obat-obat tertentu saat hamil, banyakkkkkk sekali yang bisa digali dan dijadikan pertimbangan untuk penentuan kebijakan preventif. Semoga baik program kesehatan maupun media di Indonesia menjadi lebih baik.

 

 

 

 

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

2 responses to “Celoteh: Kisruh Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: