Sehat Itu Mahal

Apakah kita semua telah sepakat bahwa setiap kita itu bertanggung jawab atas diri kita masing-masing?

Ini bukan hanya pertanggungjawaban sebatas amal berkenaan agama untuk di akhirat. Tidak sesempit itu. Kita punya tubuh. Sekarang kita yang mengatur apa yang akan dikerjakan oleh tubuh kita. Ingat, tubuh ini dipinjamkan sama Tuhan. Bagaimana cara kita memperlakukan barang pinjaman? Tentunya kita akan menjaga sepenuh hati jangan sampai rusak, agar saat dikembalikan tidak membuat marah empunya barang. Begitupun adanya dengan tubuh kita. Tuhan pun menginginkan kita menjaganya dengan baik. Tuhan menginginkan kita makan dari sumber yang baik, melindungi dan tidak dengan sengaja menyakiti tubuh kita. Tapi apa yang kita lakukan? Kita lupa, kita meremehkan.

Sekarang apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada tubuh orang-orang akan menjadi tanggung jawab dokter. Istilahnya nih badan gue, benerin tuh! Bagaimana rasanya mengobati pasien yang kecelakaan lalu lintas karena kebut-kebutan dan tidak pakai helm? Bagaimana rasanya mengobati orang yang terganggu pernafasannya akibat kebiasaannya merokok yang tidak mau ia hentikan. Bagaimana rasanya menghadapi komplikasi ibu melahirkandi usia tua karena tidak mau memakai kontrasepsi. Kami dokter, bukan montir. Kami tidak akan senang hati melihat ada yang sakit. Kami tidak mengejar uang dari orang sakit.

Baru ini yang nyata saya alami: bagaimana rasanya melihat tetangga Anda dulu, seorang anak kelas 4 SD, meninggal dengan berbagai komplikasi, karena obesitas. Anak yang waktu beberapa hari setelah lahirnya, seringkali saya datangi rumahnya, saya sayangi sekali, dan saat sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, saya kaget sekali karena badannya obes, persis orangtuanya. Ayahnya¬† bekerja sebagai penjaga di toko saat malam (lebih tepatnya preman), ibunya tidak bekerja. Semuanya hobi makan dan jajan, ekonomi menengah ke bawah. Saat bertemu, saya sarankan untuk mengurangi jajan, karena anaknya sudah terlampau gemuk. Tapi ya,,, orangtuanya juga begitu tidak mau berubah, apalagi anaknya.Iya, iya saja… saya diketawain.

Suatu saat bertemulah kami di RS tepatnya di ruang THT saat saya koass, anaknya mengalami radang tonsil berulang dan kali ini sudah hampir menutup jalan nafasnya (ditambah lagi badannya yang sangat gemuk), sehingga mengganggu aktivitasnya, waktu tidurnya, bahkan dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya dengan baik. Ia disarankan untuk operasi. Tapi sebelumnya harus menurunkan berat badan dahulu, karena bisa jadi penyulit operasi. Saya tekankan bahwa harus ikuti saran dokter, dan harus rajin datang konsul ke bagian anak untuk program penurunan berat badan. Kan biaya berobat sudah gratis (mereka pakai jamkesmas). Tapi ternyata, cuma dua kali saja. Anaknya tidak dibawa lagi. Terus melakukan kebiasaannya. Jajan..jajan..jajan..

Dan saat saya sudah merantau ini. Saya dengar kabarnya, bahwa anak tersebut masuk RS dan meninggal, dengan penyebabnya adalah gangguan jantung. Kondisinya saat meninggal? Masih obes. Kenapa selama ini tidak kontrol lagi? Karena anaknya sudah keliatan sehat, dan tentu saja, kalau dia sakit lagi tinggal bawa saja berobat, kan gratis!

Para dewan yang terhormat, dan para pejabatt pembuat kebijakan… Memang enak sekali ya jadi pahlawan. Tapi tolong jangan manfaatkan orang lain demi kelangsungan jabatanmu. Jangan manfaatkan kami untuk sekedar jadi montir dan mendukung kekuasaanmu. Jangan kaburkan makna kesehatan menjadi murah. Sehat itu mahal. Mahal sekali. Harus dijaga. Bukan sekedar berobat gratis, tis, tis yang ditekankan. Mestinya kebijakan untuk membuat orang terus sehat itu yang harus direncanakan. Ini bukan masalah gaji kami, bukan. Ini untuk masyarakat sendiri. Agar yang berobat itu memang benar-benar membutuhkan pengobatan karena walaupun dia sudah berusaha menjaga tubuhnya dengan baik ternyata tetap saja dia mengalami sakit. Saya ulangi lagi, ada ‘usaha maksimal’ untuk menjaga tubuhnya tersebut. Agar bangsal tidak penuh oleh sakit-sakit yang bisa dicegah. Pembengkakan biaya kesakitan (bukan kesehatan) bisa dicegah.

Kebijakan kartu pengobatan gratis ini sebenarnya sudah baik, namun pemanfaatannya mesti diatur lagi, bisakah kita membuat batasan-batasan agar masyarakat mengerti bahwa yang penting itu bukan berobat gratisnya, tapi menjaga kesehatannya?

Sebagaimana saya ikut asuransi misalnya, ada batasan bahwa untuk anak ke 3 biaya melahirkan tidak ditanggung. Atau misalnya di tempat saya bekerja, untuk anak ke 3 tidak ada tunjangan. Bisakah kita membuat batasan tersebut rata kepada semua orang, bukan cuma orang yang mampu saja. Kasarnya yang bayar saja dibatasin, apalagi yang gratis. Bayangkan bila yang bisa berobat gratis anaknya 5. Semuanya mau digratisin. Sudah terbayang bagaimana repotnya mengurus banyak anak sehingga mungkin jadi tidak terurus dan pada sakit-sakitan. Kalau sakit lalu rumah sakit penuh karena ternyata banyak sekali yang punya anak 5 ini berobat, siapa yang salah? RS yang menolak pasien (kata media).

Kalau ada batasannya, mungkin kita bisa menekan ledakan sakit penduduk sebagaiman penekanan ledakan penduduk yang jadi kebijakan di China. Dengan demikian mereka akan berpikir, oh.. berarti harus ikut prgram KB supaya anak yang ada bisa tetap ditanggung. Oh, berarti harus berhenti merokok ya, karena yang merokok tidak boleh berobat gratis. Oh, berarti harus kontrol rajin ya, karena kalo tidak rajin kontrol setelah disuruh kontrol hak gratisnya akan dicabut.

Sudah saatnya berhenti memanjakan. Masyarakat harus sadar. Jaga tubuhnya masing-masing. Jaga anaknya masing-masing (jangan lupa anak itu titipan, jangan sekedar mau punya anak terus tapi nggak bisa ngurus). Ubah mindset kita, sadarkan bahwa SEHAT ITU MAHAL.

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: