Saya vs Fransisca (Kasus dr Ayu dkk)

Baru sempat berkomentar tentang kasus dugaan malpraktek yang menimpa dr Ayu dkk dengan pasien bernama Fransisca. Saya sekarang sedang sibuk-sibuknya mengurus bayi saya, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Fransisca 3 tahun lalu terhadap anak keduanya, karena Tuhan lebih mencintainya.

Menonton acara ILC semalam, dengan tema “Bisakah dokter di penjara” sungguh membuat air mata saya mengambang. Saya teringat kisah kelahiran bayi saya, yang melalui proses operasi yang sama, dengan indikasi yang sama, namun nasib kami berbeda. Kami berdua adalah orang medis, saya dokter dan dia perawat. Namun, saya memiliki suami seorang dokter, walaupun orangtua kami dan keluarga besar kami bukan kalangan dokter, seperti halnya keluarga Fransisca.

Akar dari permasalahan dimulai dari kepercayaan, trust. Saya dioperasi oleh dokter tempat dimana saya kontrol teratur, di sebuah RS swasta tempat suami saya bekerja. Walaupun saya kontrol mulai usia 6 bulan pada dokter tersebut (sebelumnya saya kontrol di Palembang, dan di RS yang lebih jauh), namun saya nilai cukup untuk terbangun rasa percaya. Dokter mengetahui segala masalah saya dalam kehamilan, kecuali bahwa saya punya prolaps mitral ringan dan saat saya kontrol di RSCM menjelang akhir kehamilan dinyatakan juga prolaps trikuspid ringan. Ini adalah kehamilan pertama saya. Saya ikuti anjuran dokter untuk belajar mengejan di kelas senam hamil, minum vitamin, dan banyak berjalan. Akan halnya Fransisca, saya tidak mengetahui statusnya kontrol di mana. Namun dengan profesi perawat dan berhubung ini adalah kehamilan kedua, sudah seharusnya beliau tahu akan perlunya kontrol kehamilan. Bedanya adalah mungkin antara keluarga Fransisca dan dokter Ayu mungkin tidak memiliki hubungan kepercayaan yang cukup kuat karena pasien datang dengan rujukan dari Puskesmas akibat riwayat vakum.

“Saya luruskan dulu di sini, bahwa pernyataan host di ILC yang menggiring opini bahwa riwayat vakum adalah kegawatdaruratan sehingga harus dilakukan operasi segera adalah keliru. Vakum itu disedot dari bawah Bung, jadi lewat jalan normal biasa, cuma mungkin karena sesuatu hal seperti kurangnya tenaga mengejan, maka dibantu dengan alat. Jadi bukan karena ada riwayat vakum terus langsung dioperasi. Oleh karena jalannya juga lewat bawah, maka memang harus ditunggu juga pembukaan secara normal bila indikasi operasi tidak ada. Belum tentu riwayat vakum sebelumnya menyebabkan ibu harus divakum untuk kelahiran seterusnya. Seperti halnya ibu yang menjalani operasi SC tidak tertutup kemungkinan kelahiran selanjutnya dilakukan secara normal.”

Saya dirawat menjelang kelahiran dengan indikasi tingginya kontraksi, yang rentan menyebabkan ruptur uteri (rahim). Saat itu kertas pada alat CTG tidak dapat menggambarkan lagi puncak kontraksi saya saking tinggi dan rapatnya kontraksi. Dengan bentuk gelombang kontraksi seperti itu, saya seharusnya sudah bukaan 4, namun ternyata setelah diperiksa oleh bidan, belum ada pembukaan sama sekali. Bidan menelepon dokter dan dokter menyuruh observasi dan mengukur CTG tiap 4 jam serta menyuruh lapor hasil untuk instruksi selanjutnya. Dokter tidak bisa datang karena saat itu beliau ada di Bandung. Kok dokternya tidak stand by? Karena hari itu adalah hari Sabtu.  Hari yang sama saat Fransisca menjalani operasi yang tidak didatangi konsulen, melainkan dikerjakan seorang chief resident.

Hari minggu dokter datang memeriksa saya, dan memberikan obat untuk menurunkan kontraksi. Dokter dan perawat selalu memberi tahu saya mengenai apa rencana pengobatan, indikasinya, kontraindikasinya, nama obat yang dimasukkan, berapa tetes, sampai saya terbosan-bosan mendengarnya karena saya sudah tau dengan hanya membaca labelnya. Entah apakah hal ini dilakukan secara rutin pada setiap pasien, ataukah karena kebetulan saya adalah seorang dokter yang mungkin terlihat cerewet.

Tindakan ataupun diagnosis memang seharusnya PASIEN yang berhak mengetahuinya, menerima, ataupun memutuskan untuk menolaknya, bila keadaan pasien memungkinkan. Saat itu saya masih sepenuhnya sadar, belum kesakitan (ambang nyeri saya tinggi), sehingga penjelasan diberikan langsung kepada saya. Keluarga saya yang menunggu datang bergantian sehingga menerima info hanya sepotong-sepotong. Bisa dibayangkan dengan keadaan keluarga Fransisca yang kesana kemari menebus obat, mengurus administrasi, menghubungi keluarga, dan sebagainya, hingga komunikasi dokter-keluarga pasien juga tidak jalan. Mungkinkah Fransisca mendapat penjelasan mengenai tindakan? Mungkin saja, namun kita tidak dapat lagi bertanya untuk membuktikannya. Inilah yang jadi masalah. Oleh karena itu otokritik pada sistem kesehatan kita, bagaimana caranya agar komunikasi ini bisa berjalan dengan baik. Tidak hanya pada dokter, sistem administrasi rumah sakit pun harus dibenahi. Lampu remang-remang yang dikatakan ibunda Fransisca saat menandatangani kertas (yang ternyata persetujuan tindakan operasi) tidak seharusnya terjadi. Apakah lampu RS menjadi tanggung jawab dokter? Tentu tidak. Maka seharusnya bertambah panjanglah daftar tersangka. Oia, saya melahirkan di RS swasta, beda dengan RSUD tempat terakhir Fransisca. Mohon dicari lagi, berapa pasienkah yang harus ditangani oleh dokter RSUD sehingga (mungkin) tidak sempat seluas-luasnya memberikan keterangan kepada keluarga? Bila ada ketimpangan, makin panjang daftar tersangka.

“Menggarisbawahi kesenjangan kesaksian dari ibunda Fransisca dan dr Ayu, mengenai apakah pasien menjerit-jerit. Kembali lagi host ILC menggiring opini bahwa pasien menjerit-jerit adalah menggambarkan keadaan yang kritis. Ibunda meyakini Fransisca yang menjerit karena beliau mendengarkan di balik pintu, sedangkan dokter Ayu menyatakan pasien tidak menjerit-jerit. Terlepas dari jeritan mana yang benar, saya menyetujui pendapat dr. Nurdadi, SpOG yang menyatakan 80% perempuan kalau mau melahirkan itu menjerit-jerit, tapi bukan berarti itu kritis. Sebagai mantan koass di ruang bersalin, 1 bulan di dalamnya memang dipenuhi jeritan, darah dan air mata. Jeritan minta segera dioperasi karena tidak kuat menahan sakit itu sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan pada keluarga saya yang ternyata dapat melahirkan secara normal. Sebagai seorang suami yang istrinya pernah melahirkan tentunya sudah maklum akan hal ini, kecuali Bung memang tidak pernah mendampingi istrinya bersalin, atau mungkin istri Bung memiliki ambang nyeri yang tinggi seperti halnya saya, yang masuk dalam kategori 20% itu. Jika semua perempuan yang menjerit dianggap kritis, lalu bakal tinggi sekali angka operasi SC di Indonesia ini, dan keluar lagi komentar nyinyir: dokternya mata duitan, maunya operasi terus. Serba salah.”

Sekian jam Fransisca “dibiarkan” menurut keluarga atau “diobservasi” menurut dokter, tidak akan selama saya yang terbaring di RS sejak hari Sabtu hingga keluar ruang operasi di hari Rabu. Untuk diketahui, pada usia kehamilan saya yang ke-38 minggu, saya minta dilakukan induksi agar cepat melahirkan, karena saya ada ujian. Dokter saya bilang, sabar, secara alami saja, tunggu, hingga akhirnya 40 minggu. Hal yang mungkin juga diinginkan dokter Ayu kepada Fransisca setelah pemeriksaan menunjukkan bahwa persalinan dapat dilakukan secara normal. Saya percaya, dokter yang takut Tuhan pasti ingin yang terbaik bagi pasiennya.

“Menyinggung kesaksian dari Ibunda yang menyebutkan bidan di puskesmas telah menyatakan pembukaan Fransisca adalah 8-9 saat dirujuk dan ternyata menurut dr Ayu pembukaan baru 2-3 sehingga masih bisa ditunggu untuk persalinan normal, itu juga terjadi pada saya. Pada tengah malam itu, bidan jaga di RS menelepon dokter saya mengabarkan bahwa saya sudah bukaan 8, namun saat dokter datang dan memeriksa ternyata baru bukaan 6. Tergantung pendidikan dan pengalaman, skill memang sulit dibandingkan. Saya rasa bidan di puskesmas tersebut sebenarnya bisa dimintai keterangannya dan diperiksa skill-nya, karena besarnya pembukaan itu menentukan jalannya pemeriksaan lagipula ketuban sudah (di)pecah(kan?) di puskesmas. Sangat bahaya sekali bila pembukaan masih jauh tapi ketuban sudah pecah, risiko infeksi.”

Setelah merasakan nyeri perut hingga sampai bukaan 8 (tanpa menjerit-jerit) ternyata terdeteksi adanya gawat janin, serupa dengan Fransisca yang juga terdeteksi saat akhir pembukaan. Oia, saat dipecahkan, ternyata ketuban saya hijau, bagaimana dengan ketuban Fransisca? Jernikah? Keruhkah? Hijaukah? Saya tidak mendengar informasi tentang hal ini. Bayi saya sudah stres di dalam. Tetap ditunggu, dokter yakin, saya tetap bisa melahirkan normal, hingga denyut jantung janin saya menunjukkan penurunan, hingga bisa dihitung sesuai nafas saya. Saya yang tidak mampu menahan kepalanya yang terus membentur ke bawah hingga saya dengan refleks mengejan, padahal belum waktunya, yang menyebabkan terjadi kegawatan janin. Bagaimana dengan Fransisca? Apakah penyebab gawat janinnya serupa?

Saat itu, dokter sudah meminta untuk disiapkan ruang operasi dan menyuruh menelpon dokter asisten, dokter anestesi. dan petugas lab pada perawat, dengan terus menyemangati saya untuk bertahan, memberikan lengannya untuk saya genggam dan cakar, hingga akhirnya lemas saya, akankah penantian panjang dan perjuangan berhari-hari di RS akan berakhir dengan hilangnya nyawa bayi saya. Melihat kemampuan saya menarik nafas sudah terkalahkan oleh sedikitnya selang waktu timbulnya refleks mengejan saya, denyut jantung bayi sudah mulai satu-satu, dokter mengatakan ini tidak bisa ditunggu lagi. Ada usaha maksimal dokter yang saya rasakan. Berhari-hari menggunakan segenap ilmunya, berusaha memberikan saya pengalaman menjadi seorang ibu yang bersalin normal, namun apa daya, tidak berujung baik. Saya yakin sang dokter sama kecewanya dengan saya, karena kami melalui ini bersama. Dokter saya adalah seorang wanita yang baru saja melahirkan anak melalui SC 3 bulan yang lalu, padahal ia sekuat tenaga menginginkan persalinan normal. Saya yakin dr Ayu, juga seorang wanita, sama kecewanya saat kegagalan itu.

“Menyoroti masalah tidak adanya pemberitahuan tindakan operasi pada keluarga pasien, keadaan berbeda terjadi pada saya. Saat saya dalam proses melahirkan di ruang bersalin, suami saya selalu berada disamping saya. Hal inilah yang menyebabkan suami saya mengetahui jalannya proses persalinan dan dengan mantap menjawab setuju saat dokter mengatakan rencana untuk dilakukan operasi. Ketika saya dan suami sudah menyatakan setuju, petugas lab datang untuk mengambil darah segera sebagai data kondisi praoperasi. Saya disodorkan kertas persetujuan tindakan yang harus ditandatangani, demikian pula suami saya. Tidak ada satupun dari kami yang membaca surat tersebut, selain mencari tempat tanda tangan saja. Karena kami sudah paham, sudah tau, apa yang akan dilakukan dokter, apa risikonya, dan kami ingin sesegera mungkin dilakukan tindakan. Sebelum menuju ke ruang operasi, dokter menginformasikan secara singkat tentang kondisi saya dan rencana operasi pada ibu saya dan kedua mertua saya (hanya ayah mertua saya yang perawat, yang lain tidak paham medis), tanpa meminta tanda tangan apapun.

Pada cerita pilu Fransisca, saya tidak mendengar apakah suaminya bersamanya atau tidak, namun itu tidak jadi masalah besar, karena ada sang ibu dan keluarga lain, yang juga tidak mengerti medis. Kesenjangan waktu nampaknya tidak ada sehingga tau-tau pasien dibawa saja ke ruang operasi. Dokter harus bertindak sesegera mungkin untuk menyelamatkan pasien dan bayinya. Kemana keluarga saat akan diminta persetujuan operasi dalam keadaan gawat? Mengurus administrasi? Inilah yang harus dibenahi. Rumitnya administrasi apakah jadi kesalahan dokter yang hanya menjalankan fungsi pengobatan? Biaya obat-obatan apakah kesalahan dokter yang tidak mau menanggungnya terlebih dahulu sehingga harus memakai jaminan-jaminan perhiasan? Makin panjang daftar tersangka. Tanda tangan tanpa membaca detil apakah menjadi kesalahan seorang ibu yang mungkin tidak memiliki pendidikan yang cukup (saya tidak tahu sebatas mana pendidikannya)? Dengan segala kebesaran hati, saya mengakui, seandainya itu ibu saya, ataupun ibu mertua saya,-yang tidak sampai mengenyam bangku kuliah, walaupun memiliki anak atau menantu dokter, yang menunggu anaknya bersalin dengan proses yang teramat pelik, kelelahan, berharap-harap cemas-, yang berada pada posisi ibunda Fransiska, maka saya yakin mereka pasti akan bertanya apa isi surat ini, namun tidak membaca detil walaupun akhirnya akan memberikan tanda tangannya.”

Terakhir masalah biaya, kami tidak membayar apapun di awal, semua ditotal saat keluar RS. Keluarga selalu berada di samping pasien, tidak sibuk mengurus administrasi dan obat-obatan. Beda dengan Fransisca yang harus membeli obat dahulu (apakah pasien memakai jamkesmas sehingga ada obat yang tidak ditanggung? Saya kurang mengerti) dan diruwetkan oleh sistem. Dimana bedanya? Sekali lagi saya RS swasta, Fransisca RSUD. Saya membayar memakai asuransi dan uang pribadi, dengan sistem pelayanan yang ditentukan manajemen RS sendiri, Fransisca harus melalui sistem yang dibuat pemerintah. Saya datang tanpa rujukan. Dokter saya pada hari itu hanya mengurusi saya saja, 1 pasien saja. Saya tidak tahu bagaimana kabar dokter kebidanan di RS pemerintah, berapa pasienkah?

Hal yang mungkin sama adalah kami hanya membayar biaya obat-obatan, karena 3 dokter yang menangani saya tidak minta bayaran. Sementara residen yang menangani Fransisca pun tidak dibayar.Kami adalah teman sejawat, sumpah kami salah satunya adalah memperlakukan sejawat sebagaimana ia ingin diperlakukan. Akan halnya Fransisca, hanya terbenam dalam janji-janji pemerintah yang (katanya) pro pada rakyat untuk mendapatkan pengobatan terjangkau (gratis?). Apakah saya salah bila saya mampu membayar RS swasta dengan sistem yang lebih baik. Tidak. Apakah dr Ayu dkk dengan segala keterbatasan waktu, fasilitas, berdosa mencoba menolong pasiennya namun gagal. Tidak. Saya tidak akan membahas kekonyolan tuntutan jaksa yang mengatakan bahwa melakukan kasasi atas dasar terjadinya emboli pada pasien sehingga menimpakan kesalahan kepada dokter. Emboli memang ada, dokter yang mengoperasi emang ada, terus hubungannya apa? Analogi sederhananya begini: Ada kue di atas meja, sejam yang lalu ibu habis beres-beres meja, Apakah kue itu pasti ibu yang menaruhnya di atas meja? Bisa iya, bisa tidak. Nah itu yang harus dibuktikan. Bukan serta-merta berasumsi bahwa kue itu dari ibu. Siapa tau ayah yang datang membawanya.

“Host ILC menekan Wamenkes dengan pertanyaan : bila dokter bekerja tidak sesuai SOP, apakah dokter bisa dipenjara? Wamenkes tidak menjawab iya atau tidak. Karena bila jawabannya iya, sudah banyak sekali dokter yang di penjara. Dokter-dokter perifer yang terjebak dalam sistem, memberikan antibiotik jenis B pada penyakit yang harusnya diberikan obat jenis A, namun obat A tidak kunjung dikirim ke puskesmas. Jarum infus bekas pakai yang disteril ulang karena tidak dikirimnya stok ke daerah ujung Indonesia. Ini pengalaman nyata teman-teman saya. Prosedur yang mana Bung? Siapa yang bikin prosedur Bung? Kalaupun sudah ada prosedur, siapa yang seharusnya melengkapi fasilitas agar prosedur dapat dijalankan dengan baik, Bung? Anda pikir itu semua ditimpakan kepada dokter?Seharusnya pertanyaan Anda adalah, apakah dokter yang tidak bekerja sesuai SOP padahal fasilitasnya lengkap, tanpa ada tekanan, bisa melakukan terapi seluas-luasnya demi kesehatan pasien, bisa dipenjara? Bila komponen setelah kata ‘padahal’ belum terwujud, stop keinginan memenjarakan dokter dengan alasan SOP! “

BENAHI SISTEM! Ini bukan perang dokter VS pasien! Ini bukan menang kalah. Semua harus berbenah. Dokter adalah makhluk dalam sistem. Pemerintah harus penuhi hak semua warga atas kesehatan yang layak (SEMUA bukan segelintir orang, entah itu segelintir kaya atau miskin). Rakyat pun dituntut dapat  menjaga kesehatannya dengan baik. Dokter harus berjuang sekuat tenaga demi kesehata pasien. Sekuat tenaga = tenaga manusia. Bukan tenaga kuda ataupun jadi sapi perah yang membuat sistem. Sekuat jiwanya = jiwa manusia, bukan malaikat.

Saya paham sekali kesedihan keluarga Fransisca. Saya pun sempat membayangkan hal yang mengerikan di ruang bersalin dimana anak saya tidak akan selamat, ataupun saya yang tidak selamat di ruang operasi. Terlintas wajah suami saya yang sangat saya cintai, orangtua dan mertua saya yang tidak henti-hentinya berdoa sambil menunggu. Sempat ada rasa kesal mengapa jadinya begini, seandainya dulu langsung diinduksi saja, seandainya langsung di SC saja, dan banyak lagi pengandaian-pengandaian dari setan dan untungnya saya sadar, saya beristighfar, saya punya Tuhan, Allah. Allah-lah yang menentukan segalanya, jalan yan harus saya tempuh ini, sakit serta air mata ini, dan kematian bila terjadi. Di saat itulah saya pasrah pada-Nya, terima keputusan-Nya, Alhamdulillah kami berdua selamat. Sedih saya untuk Fransisca, namun hal yang sama darinya juga saya harapkan telah terjadi, sebuah kepasrahan pada-Nya. Saat dia sudah berjuang untuk lahirnya anak ke dunia, dalam agama kami adalah pahala begitu besarnya. Bukankah surga juga bagimu dalam agamamu. Maka bila pehamaan kita sampai kesitu, tiada lagi tuntut menuntut urusan nyawa yang tiada manusia dapat mengelak dari kehilangannya, bahkan 1 detikpun.

Akhir kata, semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik, hati semua orang Indonesia semoga semua menjadi damai, pikiran dibukakan.  Aamiin.

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

55 responses to “Saya vs Fransisca (Kasus dr Ayu dkk)

  • rizalean

    bbrp hari terakhir jadi trending topic di meja makan dan di mobil kalo aku lagi bareng istriku, seorang dokter rehab medik. as an IT guy, opiniku maybe gag valid untuk hal medisnya dan bias utk profesi medisnya (still love my wife lah :D).

    tapi basic logic aja, suatu niatan menolong nyawa manusia, kemudian dihukum karena gagal menolong nyawa, adalah naif dan berbahaya bagi profesi sang penolong. iya lah, bisa debat 7 hari 7 malam kalo mau.

    moga para pemegang palu hukum di PK MK terbuka hatinya.

    off course, semoga para dokter semakin kompeten, cekatan, dan tetap prudent sesuai prosedur.

    for better Indonesian life. Aamin.

    • Wayan Krishna Candra

      wah, sy agak mirip sm bang rizalean nih, orang IT yg istrinya dokter. Saya juga sepemikiran spt bang rizalean. Aneh jika kegagalan tindakan medis oleh dokter, padahal sudah berusaha sebaik2nya, harus diganjar dengan hukum pidana. Terus terang saya sering was-was tentang istri saya, bahkan sejak masih pacaran dan dia jadi dokter PTT di daerah terpencil. Saya selalu berdoa agar dalam pelayanannya kepada kesehatan, dia selalu dijauhkan dari cobaan berupa tudingan malpraktek, dll…

  • sheetavia

    bener-bener perjuangan seorang ibu itu ya…
    saat hamil-melahirkan itu dia sedang mempertaruhkan hidupnya…

    salam buat naila (gades bapake…bener-bener merep agung des…)

  • dr T indiarti

    Jempol banyak untuk panjenengan, smoga masyarakat paham. Dr temen sejawat. Ijin share ya mbak.

  • Fitriah Awab

    Ya iya susahlah untuk Pak Hakim & Jaksa di MK untuk paham situasinya sebab pasti mereka belum pernah melahirkan… hehe…! Kalaupun ada yang mungkin pernah mendampingi istrinya melahirkan pasti ga kebayang juga rasa sakit yang diderita calon ibu pada saat melahirkan, jadi ketika sang istri menjerit-jerit kesakitan… ya dia pasti mengira bahwa kondisinya sudah gawat… !

    Kebetulan saya pernah mengalami situasi yang sama yaitu melahirkan dengan bantuan cesar setelah sebelumnya sempat menjalani proses melahirkan secara normal, tapi karena mengalami apa yang disebut gawat janin (karena bayi tertahan oleh belitan tali pusat) akhirnya proses persalinan normal tersebut dihentikan dan akhirnya dibantu dengan bedah cesar, padahal itu adalah kelahiran anak ke Empat dengan riwayat persalinan normal untuk ketiga anak saya sebelumnya & baik saya maupun kandungan selalu terpantau dalam kondisi baik…! Tapi siapa yang menyangka justru pada persalinan ke Empat saya harus menjalani bedah cesar tsb.

    Alhamdulilah Allah masih memberi saya kesempatan hidup dan merawat anak saya tersebut sampai hari ini 6 Desember 2013 dia merayakan ulang tahunnya yang ke 19th… !

    Pertanyaan saya adalah apakah ilmu kedokteran di Indonesia sedemikianTERDEGRADASI sehingga 3 orang dokter harus masuk penjara karena gagal menolong seorang pasien yang pada hasil otopsi disebut meninggal akibat adanya Emboli Udara ke jantung…?
    Siapa kira2 yang mampu mencegah udara menyusup kedalam aliran darah seorang manusia?

    Pasti tidak pernah terbayang juga oleh Pak Hakim dan Jaksa di MK apa efek dari kejadian ini terhadap para mahasiswa kedokteran di Indonesia terutama terhadap para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan Kedokteran di luar negeri…seperti anak pertama saya yang saat ini sedang menempuh pedidikan dokter di Rusia dengan beasiswa dari pemeritah Rusia (karena tidak mampu membayar pendidikan Kedokteran dinegeri sendiri)… SUNGGUH MEMILUKAN…!!

    Sudah harus jauh dari keluarga, harus bergelut dengan segala perjuangan tinggal dinegeri orang dengan kondisi cuaca yang kadang esktrem belum lagi segala kesenjangan sosial budaya yang harus dihadapi setiap harinya… masih harus juga berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik (Tinggi) demi kualitas diri dan tentunya demi kelangsungan beasiswa yang harus diraih demi kelangsungan pendidikannya, karena dari negeri sendiri tidak ada dukungan sama sekali…!!

    Lalu apakah dia (mereka para mahasiswa Indonesia itu) harus melepas keinginan untuk pulang dan berbakti di negeri sendiri? Apakah lelbih baik buat mereka untuk mengamalkan ilmunya nanti dinegeri orang yang lebih bisa menghargai pengorbanan mereka?? Siapakah yang bisa menjawab pertanyaan ini…?

    • armelzahfauzi

      Mungkin hanya Tuhan yang mampu menjawabnya bu,,, oia, setelah pulang dari Rusia, balik ke Indonesia harus ikut ujian dan internship lagi kan? Soalnya dulu pernah juga ketemu dokter tamatan Rusia yang harus magang di RS, kalau tidak salah setahun lamanya.

  • sudjatmo

    katanya Fransiska itu pake ASKES…

    hehehehe…

    .^_^.

    • armelzahfauzi

      Kebetulan saya juga pakai ASKES sosial (Saya tidak tau tingkatannya berdasarkan golongan PNS). Dari keterangan di buku petunjukknya dan hasil bertanya ke kantor ASKES, ada keterangan bahwa untuk persalinan, anggota bisa memilih RS mana saja, tanpa surat rujukan, walaupun swasta yang tidak kerja sama dengan ASKES. Hanya saja, penggantiannya tidak penuh. Jadi saya harus bayar sendiri dulu, baru diklaim ke ASKES dengan menyertakan surat menyurat lengkap, kalau saya tidak salah ingat (maklum yang ngurus suami saya): kwitansi biaya pengobatan bermaterai, catatan operasi, surat keterangan dari RS, surat keterangan kelahiran, fotokopi no rekening di buku tabungan. Sekitar 2-3 minggu, uang penggantian masuk ke rekening, sekitar 6 juta. Jadi memang dengan RS tempat saya melahirkan tidak ada prosedur berbelit-belit karena urusan klaim itu antara saya dan ASKES.
      Saya sebenarnya kurang tahu apakah prosedur ASKES untuk persalinan di RS swasta yang bekerjasama dengan ASKES maupun RS pemerintah juga demikian, melahirkan dulu baru perhitungan biaya. Tetapi pengalaman saya waktu masuk IGD dan dirawat di RS pemerintah memakai ASKES (bukan karena melahirkan), rujukan itu belakangan (ditunggu selama 3 hari, jadi yang mengurus orang lain di Puskesmas), saya ditangani dulu di IGD, masuk ke ruangan rawat inap. Nah, setelah saya sudah stabil di ruangan, disitu saya baru diminta mengurus uang jaminan di loket ASKES (sebesar 2 juta) sebagai prosedur, uangnya dikembalikan setelah saya keluar dari RS. Tapi memang kita tidak bisa memilih dokter, dan untuk obat yang tidak ditanggung ASKES tetap harus biaya sendiri.

      • anggareni

        sepertinya, kebijakan administrasi RSUD tergantung dari pemda masing2. alhamdulillah, di RSUD SOEDARSO kalbar pasien gawat darurat ditangani terlebih dahulu, administrasi belakangan. ini saya ketahui dari papan pengumuman yg terpampang di depan ruang UGD.
        kebetulan waktu itu saya dampingi ibu yang mau operasi angkat rahim. ibu dan saya pengguna askes. dan benar2 tidak dipungut biaya sepeser pun. dan kami juga bukan keluarga kesehatan.

      • armelzahfauzi

        iya mbak, saya juga yang pake ASKES di IGD RS pemerintah memang ditangani dulu, setelah pindah ke ruangan dan kondisi saya sudah stabil, baru mengurus administrasinya. Tapi memang ada uang jaminan, walaupun dikembalikan seluruhnya setelah saya pulang. Mungkin kalau pasien yang rawat jalan di poli, dan operasinya elektif tidak pakai ya, saya juga nggak tau. Mungkin memang tergantung kebijakan RS nya.🙂

  • damin

    menurut saya kejadian yg menimpa anda, terkesan di buat semirip2nya dengan fransisca, jd terkesan ada unsur pembelaan terhadap dr. Ayu… jujur saja menurut saya perkerjaan seorang dokter adalah pekerjaan yg mulia, tp kembali kepada individunya, dokter juga seorang manusia yg tidak luput dari sebuah kesalaha.
    contoh sy jg pernah mengalami kondisi dimana sy di hadapkan dengan 2 pilihan yg sulit.. dimaan pada saat itu istri sy mengandung anak pertama sy. menurut diaknosa dokter Spog, (sy tidak ingin menyebutkan namanya), beliau yg menangani istri sy pada saat itu… istri sy memiliki riwayat hipertensi, hepatomegali, dan elektrofarensis, sehingga sy di kasih pilihan, apakah sy akan menyelamatkan istri saya, atau anak saya… tp sy yakin bahwa dokter bukan Tuhan.
    lalu saya minta alternatif lain… dan beliau memberikan izin agar istri sy di refral. singkat cerita kami sampai ke t4 tujuan dan bertemu dokter yg di tunjuk, beliau menyarankan sy untuk menegakkan kembali diagnosa dr dokter sebelumnya, dan memang ada salah satu diagnosa yg sesuai, yaitu riwayat hipertensi.
    lalu sy membawa istri sy ke praktek dokter internis, dan ternyata beliau tidak menemukan adanya hepatomegali ( pembengkakan fungsi hati) dengan tersenyum beliau berkata sy hanya menemukan seorang bayi, mungkin perempuan, kemudian beliau bertanya gimaan caranya dokter sebelumya mengetahui istri anda mengidap elektrofarensis (kelainan sel darah merah) sementara alat untuk mengetahui hal tersebut tidak ada di sini, dan lg sampel darah untuk mengetau hal tersebut harus bener2 segar, maksimal 2 jam setelah di ambil… sy jawab sy tidak tau, karna sy awam dalam hal ini…
    setelahnya kami kembali ke dokter rujukan td, beliau membaca hasil diaknosa terbaru, dan berkata qt tunggu tekanan daranya turun lalu qt lakukan operasi…
    sekarang puji Tuhan, putri pertama sy berusia 6th, dan telah duduk di kelas 1 SD, berkat perpanjangan tangan Tuhan yg sy panggil dokter.
    lalu apa sy akan mengatakan semua dokter adalah sempurna? jawabannya ” tidak” bagaimanapun setiap kesalahan harus di pertanggung jawabkan… jd yg qt serahkan saja pada proses hukum yg berlaku di negara qt… semoga qt semua mendapat keadilan, Amin.

    • armelzahfauzi

      Tidak ada niat memiripkan, justru saya membandingkan apa yang terjadi pada saya dan Fransisca. Kebetulan mirip, karena jalannya proses melahirkan rata-rata sama, pembukaan dulu, dst sampai tiba waktunya melahirkan. Prosedur penanganan juga sama, ditunggu pembukaan dulu, sekian jam, dst hingga dapat lahir normal atau dengan bantuan alat ataupun dengan operasi. Disini terlihat bahwa prosedur demikian sudah standar. Nanti kalau lain prosedur, lalu jadi kesalahan pula.
      Hal yang sama disini yang sama adalah kami harus menjalani operasi, meskipun demikian proses yang menyertainya tidak sama, administrasinya tidak sama, jenis RS nya tidak sama, reaksi keluarga tidak sama, hasil operasinya pun jauh berbeda. Nah, kalau seandainya hasil operasinya sama, mungkinkah reaksi keluarga saya juga sama (karena orangtua saya bukan dokter)? Hanya Allah yang tahu.

      Setuju sekali dengan pendapat Anda, bahwa dokter juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Ada yang ketinggalan gunting di perut, ada yang salah kasih obat (bukan salah karena kebetulan pasiennya alergi loh ya). Dokter juga ada yang kriminal, misalnya melakukan praktek aborsi tanpa indikasi demi materi, terlibat narkoba, terlibat korupsi dsb. Tapi pada kasus ini memang belum dapat dibuktikan apakah penyebab kematian adalah kelalaian dokter dalam melakukan operasi. Jadi kita tunggu saja ujungnya.

      Sepakat dengan apa yang dilakukan Anda untuk mencari second opinion, itu memang hak pasien. Ilmu kedokteran itu science and art, bahkan saya dan suami saya bisa beda pendapat untuk mendiagnosis dan memberikan terapi pada pasien, karena beda pengalaman, lingkungan kerja, update ilmu dari seminar, dsb. sehingga menimbulkan perbedaan kesimpulan dalam penegakan suatu diagnosis. Perbedaan pendapat dokter yang Anda alami sangat mungkin disebabkan perbedaan bidang yang dokter geluti, satu dokter kebidanan, dan satu internis. Oleh karena itu pemberian rujukan kepada yang lebih paham untuk kasus internis yang tidak rutin dialami oleh seluruh kehamilan menurut saya sudah tepat.

      Pada intinya, saya setuju dengan Anda, bahwa setiap kesalahan harus dipertanggungjawabkan. Namun sebelum itu, setiap kesalahan harus dapat dibuktikan. Vonis bersalah tanpa bukti melakukan kesalahan sangatlah menyedihkan, bukan hanya untuk dokter, tapi juga bagi semua orang.

    • adi

      tulisan yg bagus utk pembenaran…

  • mama hoge

    Sy setuju dgn kalimat “dokter juga manusia” walaupun sdh merasa sesuai dgn prosedur tp kelalaian pasti masih bs terjadi krn sesuatu Ɣªήğ mendesak… “̮Ĵªϑȋ̝̊̅ bolehlah membela (krn sm2 satu profesi) tp jgn terlalu yakin klo dr ayu itu pasti benar…

  • hendrik

    Mohon di share bu SOP kedokteran dalam penanganan operasi melahirkan bagaimana? yang dilakukan dr. ayu cs apa saja? dokter saksi ahli siapa saja dan apa saja pendapatnya? lalu kenapa ndk didatangkan saja dokter ahli dari luar negri biar hakim dan masyarakat lebih percaya bahwa saksi ahli bukan membela teman sejawat secara subjektif spt yang sering dipersepsikan selama ini ?dengan demikian, PK bisa lebih adil,dokter-dokter kita bisa bekerja dengan rasa nyaman serta merasa diperlakukan secara adil dimata hukum, sementara masyarakat juga mendapat pelayanan yang lebih berkualitas serta juga terjamin dimata hukum dimasa depan

  • vika

    Amel,mb izin share ya dek.. ^_^

  • istianah

    Setuju sekali dg apa yg anda ungkapkan dok..saya jg perawat, sy perempuan, pernah melahirkan dan dtangani jg oleh residen, dokter bukanlah Tuhan…apakah karena sudah dtangani oleh dokter maka semua pasien mesti sehat, tidak boleh mati…..naif sekali….semuanya kembali pada takdir, pada kepasrahan kita terhadap Yang Kuasa….percayalah jika hukum d dunia tdk bisa menjangkau yg salah, hukum d akhirat pasti ada….

  • achmadarif

    emang dok yng namanya tindakan sekecil apapun ya harus ada perjanjian hitam di atas putih, misal y dok klw di klinik rumahan aja dok cuman “jahit luka atw angkat kutil” sebaiknya pke tanda tangan persetujuan tindakan sama pasien apalagi operasi yg lebih besar yg jauh beresiko he2, ya utk mnghindari kejadian sperti temn sejawat kita “dr ayu” tsb

  • lita

    dr Armel trimakasih atas sudut pandangnya, walaupun panjang lebar, ternyata banyak yang masih tidak mengerti dari komentar2nya
    …..semoga Allooh membukakan mata dan hati kita untuk keadilan, aamiin…

  • Wignya

    INI BARU DOKTER CERDAS!

    “BENAHI SISTEM! Ini bukan perang dokter VS pasien! Ini bukan menang kalah. Semua harus berbenah. Dokter adalah makhluk dalam sistem. Pemerintah harus penuhi hak semua warga atas kesehatan yang layak (SEMUA bukan segelintir orang, entah itu segelintir kaya atau miskin). Rakyat pun dituntut dapat menjaga kesehatannya dengan baik. Dokter harus berjuang sekuat tenaga demi kesehata pasien. Sekuat tenaga = tenaga manusia. Bukan tenaga kuda ataupun jadi sapi perah yang membuat sistem. Sekuat jiwanya = jiwa manusia, bukan malaikat.”

  • chandrawatisantoso

    Ijin share ya dok….

  • Herlina

    Kita akui tdk semua dokter baik, tdk semua dokter ramah, tidak semua dokter cerdas, tapiii yang pasti tdk ada dokter yang menginginkan pasiennya mati. jadi hukum pidana penjara untuk dokter yang berniat menjalankan tgsnya untuk membantu pasien adlah suatu hal yang sangat berlebihan tanpa melihat konteks tujuan dari tindakan yang dilakukan dokter..

  • dedet

    Saya tertarik dengan kalimat terakhir dokter mengenai STOP mmemenjarakan dokter dengan alasan SOP… menurut saya lucu… kondisi jarum.infus yang harus direuse dengan disteril itu lain kondisinya… bukankah SOP bisa disesuaikan???

    Saya punya pengalaman… saya datang ke dokter gigi di rumah sakit.SWASTA (pastinya tidak.gratis dan harusnya pelayanan prima ya dok?) Kejadian pertama anak.saya harus perawatan syaraf… tak kurang dari.6 kali.kunjungan sya lakukan.selama.2 minggu. Pada kunjungan ke 3 dokter tersebut tidak menulis pengobatan yang dilakukannya pada rekam.medis anak saya… padahal setiap.kunjungan 2-3 gigi yang ditangani olehnya. Dokter tersebut malah bertanya pada.saya…. “gigi yang mana ya bu ?” Duhhhh… Alhamdulillahnya sya.selalu.menunggui anak saya… apakah ini bukan kelalaian.seorang dokter??? (Tidak menuliskan tindakan yang belum selesai di rekam.medis pasien)… tolong dijawab ya dok… sy tidak membayangkan jika sy tidak.menunggui anak saya… mungkin dokter tsb hitung kancing kali.ya🙂

    Kejadian kedua, di dokter yang sama pula… stelah anak.saya mendapatkan pengobatan gantian saya, pasien selanjutnya… silahkan naik bu, kumur kumur dulu,” tanpa mengganti gelas bekas yang dipakai.anak.saya… sontak sya tegur dokter.dan perawatnya, gelas.ini.bekas anak saya… sya minta diganti… apa itu bukan kesalahan prosedur… sekalipun keterbatasan gelas… harusnya disterilisasi.dulu.ya kan dok?

    • armelzahfauzi

      bukankah SOP bisa disesuaikan???

      Selama ini sudah sangat banyak terjadi “penyesuaian SOP” karena keterbatasan fasilitas namun pelayanan harus tetap jalan. Sayangnya, inilah yang jadi celah dokter untuk disudutkan, seperti pertanyaan host ILC ke Wamenkes, dan adanya desakan dari ketua YPKKI bahwa harus ada SOP yang berlaku nasional. Aturannya boleh dibuat, tapi sarana dan prasarana harus juga ditingkatkan.

      . “gigi yang mana ya bu ?” Duhhhh…

      Dulu saya pernah stase di bagian gigi, tapi memang tidak sampai menangani perawatan syaraf karena itu sudah ranahnya dokter gigi. Selama saya disitu, kami diajarkan untuk mencatat rekam medis selengkap-lengkapnya, beserta dengan skema susunan giginya yang mana, walaupun cuma untuk perawatan satu kali (mencabut gigi misalnya). Seharusnya memang dokter tersebut menulis di rekam medis, apalagi perawatan syaraf berulang sifatnya. Karena kalau dia tidak menulis, dan juga tidak bisa tahu di mana gigi yang dalam perawatan, bisa salah perlakuan. Itu personal error si dokter.

      tanpa mengganti gelas bekas yang dipakai.anak.saya… sontak sya tegur dokter.dan perawatnya, gelas.ini.bekas anak saya… sya minta diganti… apa itu bukan kesalahan prosedur… sekalipun keterbatasan gelas… harusnya disterilisasi.dulu.ya kan dok?

      Pengalaman saya dulu di RS waktu koass, setiap kursi periksa punya 1 gelas (kursi periksa banyak). Setiap selesai dipakai gelasnya kami cuci bersih dan keringkan. Tapi memang tidak ada steril-sterilan, toh pasien juga di rumah kumur-kumur saat sikat gigi atau bahkan minum dari gelas nggak disteril kan? Pasiennya makan di rumah makan, minum dari gelas nggak disteril juga kan? Tidak harus steril sebagaimana jarum suntik.
      Menurut teman saya yang dokter gigi, kalau di ruang praktek pribadi seperti itu, biasanya ada perawat yang menyiapkan segala macamnya, menyiapkan alat tindakan yang steril, mencuci gelas, dan menyiapkan air untuk pasien berkumur. Dokter tinggal duduk dan memeriksa.Kasus ini nampaknya personal error si asisten. Teman saya yang dokter gigi waktu masih koass malah menyiapkan air mineral cup sekali pakai karena semua harus dikerjakannya sendiri.

      Wah2, si dokter dan perawat seharusnya berterima kasih kepada Anda yang masih tetap setia dan berani menegur dengan santun di depan untuk perbaikannya. Sip..sip.. smart!

  • dr.erika

    Ijin share ya dok

  • gondho

    dok, saya tidak paham hukum dan tidak paham medis. Cuma bisa merasakan batas2 d mna kita sebagai manusia yang betul kata dokter bhwa takdir itu ada di tangan Tuhan. Bnyak jg kjadian yang di luar nalar manusia yang pernah terjadi di dunia medis.
    Dan satu lg yang saya setjui dr kutipan ibu dokter di atas adalah “Benahi sistem”

  • indra

    Tolak dokter kapitalis, dan diatas hukum, tdk ada profesi yg kebal hukum(contoh kasus-bila ada dokter lupa menaruh gunting di dalam perut pasien, apakah itu g bisa dihukum?mana hak pasien membela diri? )

    • armelzahfauzi

      “Tolak dokter kapitalis”

      Tolak SEMUA yang kapitalisme!!

      “bila ada dokter lupa menaruh gunting di dalam perut pasien, apakah itu g bisa dihukum”

      Kelalaian itu seharusnya bisa didenda dan penahanan izin praktek.

      Tapi kasus dr. Ayu ini ceritanya lain bro🙂

  • Deasy n sari

    Ijin share…

  • lililela

    tidak semua dokter itu sehebat profesor ahli. manusia diciptakan dg tingkat kecerdasan yg berbeda2. pasien tidak bisa menuntut sempurna mungkin mengenai keahlian dokter. bisa saja seandainya yg menolong ahli kebidanan amerika bisa selamat. tp apakah pasien menuntut setiap dokter memiliki kemampuan seperti itu? buat saja robot dokter sehingga tindakan dan kemampuan sama di seluruh dunia.
    setiap hari terjadi kematian di rumah sakit mungkin ada 10.000 orang mati tiap hari di indonesia dan ditangani dokter dan kesimpulanya semua dokter salah?
    yg menyalahkan dokter hanya segelintir orng yg hanya berpikiran suudzon terus tanpa terpikirkan terima kasih sudah berusaha membantu wlpun gagal.
    dalam kasus ini yang saya perhatikan bukan dr ayu Tp keluarga pasienya dr ayu itu tipe orang yg bagaimana?? dr ayu sudah menolong anaknya si ibu dan hidup sampe skrg tp msh tidak ada rasa terima kasih sedikitpun dan tetap menuntut dr ayu dipenjara.
    hati nuranimu dimana??
    kl kamu menyalahkan orng yg menolong kenapa km bawa ke rumah sakit? berarti kamu sendiri yg salah. krn kamu bawa ke rmh sakit jadinya mati. kamu juga membuat dr ayu dipenjara. kl kamu berhati besar maka kamu akan mencabut tuntutanmu dan meminta maaf ke dr ayu seperti yg dilakukan dr ayu kepadamu jg minta maaf tdk bisa menolong. kl kamu biarkan dr ayu di tahan 10 bulan, aku yakin suatu saat pasti timbul penyesalan dlm dirimu.
    kl semua pasien seperti ini maka ga akan ada dokter lagi. pengobatan kembali ke herbal dan persalinan ke dukun beranak dan tidak ada operasi lg seperti jaman 100 tahun yg lalu.

  • adesmurf

    Terima kasih, Mbak.. sudah menjelaskan dari sisi seorang pasien sekaligus juga seorang dokter. Saya sepaham bahwa pandangan sempit ‘dokter vs pasien’ harus ditinggalkan. Perbaikan sistemlah yg harus jadi fokus. Saya menghormati semua profesi, juga individu-individu yg memang berusaha optimal dalam bertugas. Semoga kekusutan yang ada saat ini bisa jadi pintu untuk semua pihak saling memahami lebih baik, berkomunikasi dgn trust.🙂 Bismillahirrahmaanirrahiim. Semangat ya dok..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: