BPJS, apa kabar?

Sekedar intro: hari minggu kemarin, saya dan suami menambal ban yang bocor. Daripada nunggu cuma bengong, saya perhatikan cara kerja tukang tambal ban dan alat apa saja yang dipakainya. Pertama dia akan mengeluarkan ban dalam, okeh ini pake TENAGA dan SEJENIS LOGAM PANJANG (saya tidak tahu apa namanya). Kemudian dia masukin dalam BEKAS JERIGEN yang dibelah 2 dan diisi air menyerupai baskom, dia cari dimana lobangnya, terus setelah dapat lobang dia tusuk pakai TUSUK GIGI (saya sangat yakin itu bekas). Kemudian dia ambil POTONGAN KECIL BAN DALAM BEKAS  dan SETENGAH LEMBAR KERTAS TIMAH BEKAS KEMASAN ROKOK, dan menyusun semuanya untuk di-press menggunakan ALAT PRESS (saya juga tidak tahu namanya). Ditunggu beberapa saat, lalu selesai sudah, dimasukkan lagi ban dalamnya, dan ditiup oleh KOMPRESOR. Kira-kira 15 menit kerjanya. Kamu tau berapa tarifnya? 10.000 dia minta. Pengguna jasa sebelumnya terbelalak mendengar harganya, sambil mendumel pelan,”mahal amat”. Kalau saya tidak tega untuk menawar. Bukan sok kaya sob, 10 ribu bagi saya dan suami yang sedang sama-sama sekolah itu berarti loh, secara penghasilan minus. Tapi saya pikir, kami memang sedang butuh, tidak ada tukang tambal ban lain yang dapat dijangkau.

Saya merenung, 1 tambalan bayarnya 10ribu. Apa kabar dengan tarif BPJS ya?

tarif

Waw. ngenes sangat. Komen dari salah seorang TS: “KAPITASI ADALAH YG DIBAYAR TIAP 1 ORANG/ BULAN. Dokter gigi kapitasinya Rp 2000,artnya mulut orang dibayar 2 ribu/orang untuk berobat SEPUASNYA DALAM 1 BULAN.INI MULUT APA WC YA?”

Okelah, fee dokter gigi mungkin bisa dikesampingkan (dilupakan), tapi emangnya kalu nambel nggak pake bahan ya? Alatnya ga disteril ya? Ga perlu listrik ya? Kalau puskes atau kerja di RS mungkin disiapin alat bahannya ya (oh ya? cukupkah? Kualitasnya sesuai ada yang seharga itukah?), ga kebayang dokternya modal sendiri terus teken BPJS dan menjadi tekor, atau pasiennya yang tekor #tutup muka. Tukang tambal aja dengan modal segini bisa ambil 10 rb sekali tambal (tambah banyak pendapatan kalau ada oknum yang sbear ranjau paku), apa mau pake alat dan bahan bekas aja kayak tukang tambal ban?

“Kalau dokter umum pasiennya ada 2.000 orang, 8000 perorang itu bisa dapat 16 juta dong, kalo separoh aja yang berobat kan dokternya bisa dapet 8 juta.” Jangan itung totalnya bro and sist. 8000 itu sudah termasuk tindakan dan obat. Lagian, apa yakin semuanya ga pada mau berobat kalau jor-joran dibilang gratis, apa yakin cuma berobat sekali sebulan? Trus kualitas dan kuantitas obat serta tindakan medis gimana kabarnya ya? Walaupun kata Menkes, itu insentif dokter sudah naik luar biasa.

Okelah, masalah fee dokter tidak usah dibahas lagi, yang masih penasaran bisa jalan-jalan ke sini

Perbincangan dalam grup dokter mulai banyak  keluhan tentang pembatasan dilakukan tindakan dan penggunaan obat. Banyak status dokter yang geram, merasa ilmunya yang telah banyak dipelajari untuk menangani pasien harus dibatasi penerapannya oleh pembatasan obat dan tindakab. Suami saya sendiri cerita bahwa di RSUD-nya, ibu yang melahirkan melalui SC analegtik post SC tidak ditanggung, sama seperti cerita di sini. Haiya…. setengah-setengah gratisnya niye.. Okelah ya,, kalau obatnya masih dikasih generik, okelah kalau obat canggih-canggih diganti alternatif yang murah walau kerjanya nggak cespleng dan efek sampingnya banyak (oke yang dipaksakan), tapi masak sih anti nyeri post operasi nggak dikasih juga? Lah itukan sepaket sama operasinya???

Hadeuh,, saya jadi harap-harap cemas apakah sistem BPJS ini bisa reimburse seperti ASKES kemarin. Sedih juga kalau ada penurunan kualitas dan kuantitas yang ditanggung. Dulu pernah baca-baca di sini, iuran askes dipotong 2% tiap bulan dari gaji PNS, ditambah 2% dari pemerintah. Pelayanannya lumayan memuaskan. Tapi saya baca berita di sini, terjadi pengurangan hak dari yang ditanggung bagi peserta BPJS dibanding saat dulu masih berbentuk ASKES.

Terus terang saja, saya tidak lagi berniat menjadi klinisi, dan sebelumnya masa bodoh dengan perubahan sistem kesehatan Indonesia ini. Akibatnya, saya memang menjadi bodoh dan buta informasi untuk urusan yang satu ini. Tidak pernah ikut sosialisasinya, tidak ada di lapangan untuk memantau prosesnya, juga belum memanfaatkan fasilitasnya, jadi saya juga masih meraba-raba ke arah mana ini bermuara. Tak sengaja mampir di salah satu blog dari sosok yang amazing menurut saya, membuat pikiran saya mulai terusik, penasaran, apa sih BPJS ini? Kenapa sih dokter penting tahu masalah administrasinya juga? Kenapa sih pasien perlu tahu gimana alurnya? Mari kita belajar bareng, sambil pantau jalannya ‘anak baru’ ini.

Namanya ‘anak baru’ biasalahhh suka di-bully. Semoga carut marut, resah gelisah, prasangka hanya sekedar gambaran dari masa transisi. Untuk yang berniat tulus menjadikan masa depan kesehatan Indonesia lebih baik, mari berjuang!!

nb: masih tersisa satu rasa penasaran iseng, apakah pejabat pemerintahan, anggota DPR, dan pejabat serta karyawan di BPJS sendiri semuanya juga ikut BPJS? Ini wajib kan ya? Kalau mereka tidak wajib ikut, atau malah dikasih asuransi yang lebih mumpuni, mana prinsip gotong royongnya???

About armelzahfauzi

General Practitioner, Lecturer, Daughter, Wife, Mother, Human, Servant of God. View all posts by armelzahfauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: